SIMAKDIALOG Hidupkan Kembali Proyek GONG, Lanjutkan Eksplorasi Musik Arsitektur Bunyi Riza Arshad

- Minggu, 14 Juni 2026 | 23:30 WIB
SIMAKDIALOG Hidupkan Kembali Proyek GONG, Lanjutkan Eksplorasi Musik Arsitektur Bunyi Riza Arshad

Setelah melalui perjalanan panjang yang penuh transformasi, kolektif musik jazz progresif SIMAKDIALOG kembali menghidupkan semangat eksplorasi musikal mereka melalui sebuah pertunjukan spesial di Ruang Tamu Tony (RTT), Jakarta Selatan, pada Jumat, 12 Juni 2026.

Malam itu bukan sekadar konser biasa. Bagi para personelnya, panggung tersebut menjadi ruang untuk melanjutkan percakapan artistik yang sempat terhenti sejak kepergian pendiri sekaligus komposer utama mereka, mendiang Riza Arshad, pada awal 2017. Sejak ditinggalkan sang arsitek musik, kolektif yang dahulu akrab ditulis simakDialog ini harus menemukan kembali arahnya.

Dikenal sebagai salah satu kelompok paling berpengaruh dalam perkembangan jazz kontemporer Indonesia, SIMAKDIALOG selama bertahun-tahun membangun identitas unik melalui perpaduan improvisasi jazz dengan unsur musik tradisi Nusantara. Kendang Sunda, gong, elemen elektronik, hingga pendekatan komposisi modern berpadu menjadi bahasa musikal yang khas dan sulit ditiru.

Pasca wafatnya Riza Arshad, proyek ambisius bertajuk GONG sempat terhenti. Namun, beberapa bulan setelahnya, tongkat estafet musikal perlahan diteruskan oleh pianis Sri Hanuraga yang bergabung bersama Cucu Kurnia, Rudy Zulkarnaen, dan Mian Tiara untuk menjaga nyala kolektif tersebut. Memasuki akhir 2023, SIMAKDIALOG kembali menemukan format baru. Sri Hanuraga dan Cucu Kurnia memutuskan untuk menghidupkan kembali kolektif ini dengan wajah yang lebih segar melalui kehadiran bassis Jason Mountario serta komponis musik kontemporer Dinar Rizkianti.

Dalam pertunjukan di RTT, SIMAKDIALOG menampilkan kelanjutan eksplorasi dari proyek GONG melalui komposisi "GONG 5", "GONG 6", serta sebuah karya baru berjudul "1995". Bagi mereka, GONG bukan sekadar judul album atau rangkaian komposisi. Proyek tersebut merupakan representasi dari perjalanan artistik selama lebih dari dua dekade, sekaligus menjadi refleksi cara pandang Riza Arshad terhadap musik. Melalui GONG, Riza membayangkan musik sebagai bentuk rupa, ruang, dan arsitektur bunyi yang terus bergerak sebuah medium yang memungkinkan kebebasan berpikir, eksperimentasi estetika, dan dialog tanpa batas.

Sri Hanuraga mengungkapkan bahwa pertunjukan malam itu juga menjadi bagian dari proses dokumentasi yang berpotensi berkembang menjadi rilisan resmi.

"Sebenarnya konser malam ini akan direkam. Kalau kami suka hasilnya, mungkin bisa dirilis. Kalau tidak, ya nanti kami rekaman lagi. '1995' itu lagu baru, dan ada juga karya lain selain itu. Jadi selain 'GONG 5' dan 'GONG 6', kami akan membawakan dua komposisi 'GONG' lainnya yang juga mendapat sedikit modifikasi. Kami akan memainkan 'GONG 1' dan 'GONG 4' karena menemukan ada beberapa koneksi dengan 'GONG 5' dan 'GONG 6'. Ada bagian-bagian yang kami sambungkan," ungkapnya.

Senada dengan Hanuraga, pemain kendang Cucu Kurnia menegaskan bahwa esensi dari kolektif ini tidak pernah bergeser sejak pertama kali dibentuk. "Sebenarnya kalau visi misi itu sama. Intinya itu kan pencarian kemungkinan, substansinya. Pastinya kalau buat ke depannya mungkin akan berbeda corak kalimat musik atau kalimat bunyinya," tuturnya.

Meneruskan estafet dari salah satu pemikir jazz terbesar di Indonesia tentu memikul tanggung jawab moral yang besar. Namun, Sri Hanuraga mengaku SIMAKDIALOG tidak berjalan di bawah bayang-bayang ketakutan atau tekanan masa lalu. Ia menegaskan bahwa kolektif ini tidak pernah dimaksudkan untuk berpusat pada satu figur tertentu, melainkan pada gagasan dialog yang terus berkembang.

"Nggak ada pressure. Justru kami menemukan makna baru dari SIMAKDIALOG. Pemain baru yang bergabung bukan hanya anggota baru, tapi membuat kami memaknai SIMAKDIALOG sebagai sebuah kolektif yang tidak berfokus pada satu sosok tertentu. Yang dilihat adalah idenya, yaitu dialog antarkultur, dialog antargenerasi, meneruskan legacy yang sudah ada, dialog antar-pemain yang sedang bermain, serta dialog antara komposisi dan improvisasi," ujar Sri Hanuraga.

Musisi yang akrab disapa Apa ini juga menambahkan, kehadiran Jason Mountario dan Kunay panggilan akrab Dinar Rizkianti memberikan dorongan eksplorasi yang masif karena keduanya merupakan komponis yang kuat dalam bermusik. "Dengan adanya Jason dan Kunay, yang bukan hanya pemain andal tetapi juga komponis yang kuat, eksplorasi kami jadi semakin luas. Kunay juga membawa kembali elemen elektronik yang dulu sempat hadir, misalnya di era 'Demi Masa' dengan penggunaan synthesizer. Sekarang elemen itu hadir lagi dengan pendekatan yang sangat berbeda," lanjutnya.

Satu fakta emosional yang terkuak adalah bagaimana kelanjutan proyek GONG ini bisa terwujud. Pasca wafatnya Riza Arshad, sebagian data rekaman sempat dinilai rusak atau hilang. Beruntung, berkat tangan dingin teknisi audio legendaris Danny Ardiono, data-data yang hilang dari sesi rekaman masa lalu berhasil diselamatkan dan dihidupkan kembali. Formula restorasi audio itu melahirkan trek "GONG 1", "GONG 4", dan "The Tramp" komposisi lawas yang ditulis Riza Arshad bersama gitaris Tohpati.

Kini, berbekal sisa sketsa, bagan lagu, dan catatan dokumen di dalam hard disk peninggalan Riza Arshad, SIMAKDIALOG format baru mantap merampungkan babak baru GONG. "'GONG 1' dan 'GONG 4' memang sempat direkam dan bisa dibilang sudah selesai. Tetapi untuk rangkaian setelahnya, terutama menuju 'GONG 5' dan seterusnya, justru belum sempat tergarap. Baru sekarang kami melanjutkannya. Kami menemukan di hard disk Mas Riza berbagai sketsa dan catatan yang sudah diberi label 'Gong' sekian dan 'Gong' sekian. Dari situ kami merasa ingin terus melanjutkannya. Kami ingin merekam album 'Gong' baru ini dari sisa karya-karya Mas Riza Arshad," ujar Sri Hanuraga.

Sri Hanuraga pun berharap, proyek GONG dari SIMAKDIALOG dapat segera rampung dalam tahun ini. "Mudah-mudahan semuanya bisa selesai tahun ini. Dan kalau hasil rekaman konser malam ini benar-benar kami sukai, bukan tidak mungkin langsung kami rilis," tutupnya.

Hingga saat ini, SIMAKDIALOG telah mengeluarkan delapan album. Perjalanan mereka dimulai dengan album Lukisan pada tahun 1995, lalu berturut-turut Baur (1999), Trance/Mission (2002), Patahan (2005) yang menjadi debut internasional mereka pada tahun 2007 dengan distribusi di seluruh dunia oleh MoonJune Records USA, Demi Masa (2008), The 6th Story (2013), serta Live at Orion (2014) dan GONG (2019).

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar