Di Spanyol, seorang pemuda dari keluarga biasa mampu mengambil lisensi kepelatihan dengan biaya terjangkau berkat bantuan beasiswa pemerintah. Kebijakan ini berdampak luas: klub amatir di divisi enam, bahkan di pelosok Galicia atau Andalusia, kerap dilatih oleh pemegang lisensi UEFA A atau UEFA Pro.
Kondisi itu menciptakan ‘bahasa taktik’ yang seragam secara nasional di seluruh level. Anak-anak Spanyol sejak dini memahami konsep seperti tercer hombre (orang ketiga) dan fijar y atraer (menarik dan mengikat musuh), siapa pun pelatih mereka.
Kombinasi puluhan ribu pelatih berlisensi pro dan empat pilar akademi membuat bakat-bakat Spanyol yang memahami identitas sepak bola sejak usia dini seakan tidak pernah habis. Inilah formula yang mengantar Spanyol menjadi juara dunia sepak bola putra dan putri.
Artikel Terkait
Ribuan Migran Serbu Ceuta, Pemerintah Daerah Minta Status Darurat
FIFA Investigasi Bentrokan Argentina vs Spanyol Usai Final Piala Dunia 2026
Luis de la Fuente Kecam Perilaku Argentina Usai Final Piala Dunia
Tradisi Koin Keberuntungan: Warisan Capdevila ke Cucurella yang Iringi Gelar Juara Spanyol