Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, mengeluarkan imbauan kepada warga untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi luncuran awan panas guguran (APG) Gunung Semeru yang dapat terjadi secara tiba-tiba, mengingat status gunung berapi tersebut masih berada di level III atau siaga.
Aktivitas vulkanik Gunung Semeru sempat menunjukkan peningkatan signifikan pada Sabtu malam, 13 Juni 2026, yang ditandai dengan luncuran awan panas guguran. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Lumajang, Isnugroho, menegaskan bahwa peristiwa tersebut menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk selalu siap menghadapi potensi ancaman bencana secara terukur dan tidak berlebihan. Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai dampak langsung terhadap permukiman atau warga akibat aktivitas vulkanik yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
“Kesadaran masyarakat untuk mengikuti rekomendasi yang telah ditetapkan menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi risiko bencana. Karena itu kami terus mengajak masyarakat untuk tetap waspada dan mengutamakan informasi resmi,” ujar Isnugroho dalam pernyataannya pada Minggu, 14 Juni 2026.
Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) periode pengamatan 14 Juni 2026 pukul 12.00 hingga 18.00 WIB, aktivitas Gunung Semeru masih terekam melalui sejumlah kegempaan vulkanik. Status aktivitas gunung tetap berada pada Level III (Siaga) dengan rekomendasi yang tidak berubah. Setiap perkembangan informasi terkait aktivitas gunung selalu ditindaklanjuti melalui koordinasi intensif antara Pos Pengamatan Gunung Api Semeru, pemerintah desa, relawan kebencanaan, dan berbagai unsur terkait guna memastikan kondisi di lapangan terpantau secara berkelanjutan.
Di sisi lain, BPBD terus memperkuat penyebarluasan informasi kepada masyarakat melalui berbagai saluran komunikasi. Langkah ini ditempuh agar masyarakat memperoleh informasi yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. Menurut Isnugroho, literasi kebencanaan menjadi salah satu modal penting dalam membangun ketangguhan masyarakat. Pemahaman yang baik mengenai potensi risiko, jalur evakuasi, dan langkah-langkah mitigasi akan membantu masyarakat mengambil keputusan yang tepat ketika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik.
“Masyarakat diimbau untuk tetap mematuhi rekomendasi PVMBG, antara lain tidak melakukan aktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan sesuai radius yang telah ditetapkan, tidak beraktivitas dalam radius lima kilometer dari puncak kawah, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru,” jelas Isnugroho.
Ia menambahkan bahwa masyarakat tidak perlu panik dalam menyikapi perkembangan aktivitas Gunung Semeru. Namun demikian, kewaspadaan tetap perlu dijaga dengan mengikuti informasi resmi dan arahan petugas di lapangan sebagai bagian dari upaya melindungi keselamatan diri, keluarga, dan lingkungan sekitar. “Melalui penguatan kesiapsiagaan, kepatuhan terhadap rekomendasi kebencanaan, serta pemanfaatan informasi resmi sebagai rujukan utama, diharapkan masyarakat semakin siap menghadapi berbagai potensi risiko sekaligus memperkuat budaya tangguh bencana di Kabupaten Lumajang,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Pantai Gading vs Ekuador Jadi Laga Pembuka Grup E Piala Dunia 2026
ASDP Siapkan Armada dan Diskon Tarif 100 Persen Jelang Lonjakan Penumpang Libur Sekolah
Duel Ketat di Grup E: Pantai Gading Vs Ekuador Sama-Sama Incar Kemenangan Perdana di Piala Dunia 2026
Kakek 70 Tahun Tertimpa Reruntuhan Plafon saat Rumahnya Terbakar di Polman