Maka wajar jika publik bertanya-tanya. Apakah partai baru ini gerakan pemikiran yang tumbuh organik dari bawah, atau cuma wadah sementara buat ambisi segelintir elite? Partai yang lahir dari sentimen personal biasanya cepat kehilangan nyawa begitu figur utamanya redup. Pada akhirnya, partai yang bertahan adalah yang dibangun di atas kekuatan institusi dan gagasan, bukan sekadar magnet personalitas.
Ini kemudian berkelindan dengan sebuah paradoks yang dihadapi pemilih. Seperti kata Barry Schwartz soal paradox of choice, pilihan yang banyak belum tentu bikin kita lebih puas. Justru bisa bingung sendiri. Apalagi kalau platform yang ditawarkan semua partai itu-itu saja, mirip dan minim pembeda. Pilihan yang melimpah secara jumlah malah bisa menciptakan kebisingan, bukan kejelasan.
Tanpa gagasan segar yang relevan, partai baru gampang terjebak pada kompetisi permukaan: baliho dimana-mana, slogan-slogan populis, dan pencitraan instan. Di tengah hingar-bingar seperti itu, pemilih yang lelah biasanya memilih jalan aman: kembali ke partai mapan yang dianggap lebih stabil. Ambang batas parlemen pun menjadi tembok yang semakin sulit ditembus oleh partai baru yang miskin imajinasi politik.
Jadi, persoalan mendasar demokrasi kita sebenarnya bukan kurang partai. Tapi lebih pada defisit gagasan yang bermutu. Ketahanan sebuah partai baru akan diuji bukan dari gendutnya modal atau tenarnya figur pendiri, melainkan dari kemampuannya menawarkan pemikiran dan kebijakan yang nyambung dengan kebutuhan publik.
Kalau partai-partai baru ini gagal bertransformasi menjadi gerakan pemikiran yang kokoh, nasib mereka mungkin tak akan jauh berbeda dengan pendahulunya. Cuma jadi partai musiman: muncul sejenak saat pemilu, lalu menghilang setelah suara selesai dihitung. Dan demokrasi kita? Ia akan terus berjalan di tempat, kehilangan momentum untuk tumbuh lebih matang.
Artikel Terkait
Demokrasi dalam Cengkeraman: Kedaulatan Rakyat Dikaburkan oleh Permainan Elite
Bareskrim Beberkan Kerugian Rp 2,4 Triliun dalam Kasus Dana Syariah Indonesia
Dito Ariotedjo Buka Suara soal Asal-Usul Kuota Haji Tambahan Usai Diperiksa KPK
Chocolate: Kisah Penyembuhan di Balik Hidangan yang Menggugah Jiwa