Permukaan demokrasi Indonesia tampak ramai. Pemilu berjalan, parlemen bersidang, media tetap terbit. Tapi coba tengok lebih dalam. Ada kerapuhan yang mengkhawatirkan. Indeks demokrasi kita merosot, ruang untuk mengkritik menyempit dengan cepat. Ketakutan, rupanya, telah menjadi bahasa baru kekuasaan. Di tengah lanskap suram ini, hanya segelintir aktor politik yang masih berani melawan arus. Dan mau tak mau, PDIP saat ini muncul sebagai banteng terakhir pertahanan yang tersisa.
Laporan dari berbagai lembaga internasional cukup jelas. Mereka menempatkan Indonesia dalam kategori demokrasi yang cacat. Masalahnya bukan cuma soal pemilu yang jujur dan adil. Yang lebih parah adalah kebebasan sipil yang tergerus. Kritik sering berujung kriminalisasi, oposisi sengaja dilemahkan. Demonstrasi? Gampang dibubarkan. Aktivis bisa mendekam berbulan-bulan dengan pasal karet. Kritik terhadap pemerintah kini dianggap sebagai ancaman, bukan lagi vitamin yang menyehatkan demokrasi.
Menariknya, pembungkaman tak selalu brutal. Ada cara yang lebih halus, dan justru lebih efektif. Lihat saja bagaimana influencer, tokoh publik, dan figur berpengaruh dirangkul. Mereka diberi jabatan, fasilitas, akses ke pusat kekuasaan. Setelah itu, suara-suara kritis mereka perlahan menghilang. Mereka tak perlu berbohong, cukup memilih untuk diam. Demokrasi pun tak dibunuh secara terbuka, hanya dibuat sunyi. Inilah kooptasi, strategi lama yang kini dinormalisasi dengan sangat rapi.
Artikel Terkait
Wali Kota Tangerang Alihkan Belajar ke Daring, Imbas Banjir yang Belum Surut
Tower Seluler Ambruk, Hantam Mobil Parkir di Sekolah Surabaya
Genangan Kalimalang Tewaskan Pengemudi Ojek Online di Cikarang
Pasangan Tewas Diserang Kawanan Tawon Ganas di Kebun