Bantuan Dibatasi, Gaza Tercekik
Di sisi lain, situasi kemanusiaan tak kalah suram. Soal bantuan, Israel dinilai tak memenuhi janji. Dari 60.000 truk yang disepakati boleh masuk, hanya 25.816 truk yang benar-benar diizinkan. Itu berarti tingkat kepatuhan cuma 43 persen.
Dari jumlah itu, baru 15.163 truk yang membawa bantuan kemanusiaan. Truk komersial? Hanya 10.004 unit. Bahan bakar, yang vital untuk menjalankan segala sesuatu, cuma 649 truk jauh dari kebutuhan minimum. Rata-rata, cuma 261 truk per hari yang bisa masuk. Padahal, perjanjiannya mengamanatkan 600 truk setiap hari.
Namun begitu, masalahnya bukan cuma jumlah. Israel juga dituding menghalangi masuknya material untuk perbaikan infrastruktur, alat berat untuk membersihkan puing dan mengevakuasi jenazah, bahkan peralatan medis dan obat-obatan penting. Penyeberangan Rafah pun tidak dibuka sepenuhnya. Listrik? Masih padam. Pembangkitnya tak beroperasi.
Bagi Kantor Media Pemerintah Gaza, kebijakan ini bukan kelalaian biasa. Ini dianggap sebagai upaya sistematis untuk memaksakan "persamaan kemanusiaan" lewat cara-cara kelam: penindasan, kelaparan, dan pemerasan. Mereka pun mendesak, warga sipil harus dilindungi dan bantuan harus mengalir tanpa hambatan. Gaza, saat ini, benar-benar tercekik.
Artikel Terkait
Genangan Kalimalang Tewaskan Pengemudi Ojek Online di Cikarang
Pasangan Tewas Diserang Kawanan Tawon Ganas di Kebun
Hujan Deras di Jakarta, Kaus Kaki Tiba-tiba Jadi Buruan
Inter Milan Bertekuk Lutut di Liga Champions, Kini Hadapi Ujian Bangkit Lawan Pisa