Partai Baru Bermunculan, Tapi Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

- Jumat, 23 Januari 2026 | 14:00 WIB
Partai Baru Bermunculan, Tapi Siapa yang Sebenarnya Diuntungkan?

Paradoks Partai Baru di Tengah Krisis Kepercayaan Publik

Kalau kita lihat, kepercayaan publik terhadap partai politik di Indonesia memang sedang tidak bagus-bagus amat. Survei demi survei menunjukkan angka kepuasan yang stagnan, cuma mentok di kisaran 10-15 persen dalam satu setengah dekade terakhir. Tapi anehnya, justru di tengah kondisi seperti ini, partai-partai baru malah terus bermunculan. Gerakan Rakyat, Gema Bangsa, dan lainnya. Fenomena paradoks ini jadi bahan perbincangan serius, salah satunya dari pengamat politik Adi Prayitno.

Menurut Adi, ada paradoks besar yang nyata. Di satu sisi, masyarakat seolah alergi dengan partai. Persepsinya negatif. Namun begitu, hampir tiap tahun kita disuguhi deklarasi partai politik baru. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Satu sisi orang begitu banyak alergi dengan partai politik. Orang juga persepsinya sangat negatif dengan partai politik," ujar Adi dalam sebuah video yang diunggah Rabu lalu.

"Tapi kenapa hampir setiap tahun kita menyaksikan muncul saja sejumlah partai politik baru," tandasnya.

Lalu, apa motivasi di balik kemunculan mereka? Adi punya analisis menarik. Salah satu pendorong utamanya adalah mobilitas vertikal bagi para elit. Di Indonesia, partai politik kerap jadi satu-satunya jalur untuk menduduki posisi strategis di pemerintahan atau BUMN. Mau jadi wakil menteri, komisaris, atau pejabat penting lainnya? Jalur partai seringkali adalah kuncinya.

Faktanya, hampir semua wamen dan komisaris berasal dari unsur partai. Bahkan dari partai yang gagal masuk parlemen sekalipun.

"Ada kok yang jadi wamen perwakilan dari partai politik yang enggak lolos parlemen," katanya memberi contoh.

Jalur inilah yang kemudian jadi daya tarik kuat. Seseorang bisa naik kelas secara ekonomi dan sosial setelah jadi pejabat publik. Itu sebabnya, mendirikan partai bisa dilihat sebagai investasi politik jangka panjang.

Di sisi lain, ada faktor lain yang tak kalah menarik: pasar pemilih. Data menunjukkan bahwa sekitar 80 persen masyarakat Indonesia tidak merasa dekat dengan partai mana pun. Mereka bukan kader, bukan pengurus. Hanya sekitar 20 persen yang punya afiliasi jelas.

"Artinya secara umum masyarakat kita kurang lebih sekitar 80 persen adalah mereka yang sebenarnya tidak memiliki kedekatan apapun dengan partai," jelas Adi.

Angka 80 persen itu ibarat lahan subur yang menggiurkan. Sebuah "political opportunity" yang fantastis untuk dibidik partai baru yang merasa bisa menghadirkan sesuatu yang berbeda.

Tapi jalan menuju parlemen ternyata sangat terjal. Adi mencatat, sejak 2014 sekitar sepuluh tahun terakhir belum ada satu pun partai baru yang berhasil melompati ambang batas parlemen. Nasdem adalah yang terakhir berhasil. Pada Pemilu 2019 dan 2024, semua pendatang baru gagal.

Bahkan partai lama sekelas PPP pun terlempar pada 2024 karena tak mencapai batas 4 persen. Hanura juga mengalami nasib serupa.

"Pasca 2014 hingga saat ini kurang lebih sekitar 10 tahun itu belum ada partai politik baru yang lolos ke parlimen," ungkapnya.

Lantas, bagaimana dengan Partai Gerakan Rakyat dan Partai Gema Bangsa yang belakangan ramai diperbincangkan? Tantangan mereka sangat besar. Mereka harus bekerja nyata, turun ke masyarakat, jika ingin punya peluang di 2029. Survei menunjukkan, partai yang disukai adalah yang rajin blusukan, kampanye dari pintu ke pintu, dan memberikan bantuan sosial.

Soal Partai Gerakan Rakyat, Adi melihatnya sebagai pertaruhan politik besar dari seorang Anies Baswedan.

"Kalau mau jujur sebenarnya Partai Gerakan Rakyat ini adalah pertaruhan politik sosok Anies Baswedan karena denyut nadi dari gerakan rakyat ini adalah Anies Baswedan," tegas Adi.

Diferensiasinya jelas: posisi di luar kekuasaan dengan sikap kritis. Sementara Partai Gema Bangsa, selain dukungannya kepada Presiden Prabowo untuk maju lagi di 2029, belum terlihat pembeda yang signifikan.

Peringatan Adi jelas: tanpa kerja nyata dan kebaruan yang berarti, partai-partai baru ini hanya akan jadi penggembira. Sekadar ornamen dalam pesta demokrasi, tanpa pernah benar-benar meraih kursi di Senayan atau dukungan rakyat yang solid.

"Layak kita tunggu apakah dua partai politik baru ini akan mendapatkan dukungan rakyat atau justru layu sebelum berkembang. Waktu dan kerja politiklah yang akan menjawab," pungkasnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar