Suasana hening menyelimuti Auditorium Politeknik AUP di Pasar Minggu, Kamis (22/1) lalu. Di sana, keluarga besar Kementerian Kelautan dan Perikanan berkumpul untuk melepas kepergian salah satu pegawai mereka, Deden Maulana. Pria itu menjadi salah satu korban dalam musibah nahas jatuhnya pesawat ATR-42 di Gunung Bulusaraung, Pangkep, beberapa hari sebelumnya, tepatnya Sabtu (17/1).
Deden dikenal sebagai seorang Penata Muda tingkat I di KKP, dengan jabatan Pengelola Barang Milik Negara. Ia gugur dalam tugas.
Namun, di balik duka yang mendalam, ada sebuah momen yang menyentuh semua yang hadir. Saat jenazah ayahnya disemayamkan, putra Deden, Asensio, maju ke depan. Bocah berusia enam tahun itu, dengan pakaian serba putih, terlihat begitu tegar. Lantunan ayat suci Al-Quran mengalir dari mulutnya, jelas dan penuh penghayatan. Ia membacakan Surah Al-Insyirah, yang berarti "kelapangan", di hadapan sang ayah untuk terakhir kalinya.
Isak tangis pun tak tertahankan. Keluarga dan kerabat yang hadir tersedu-sedu mendengarnya. Tapi Asensio tetap menyelesaikan bacaannya hingga akhir, memberikan ketegaran yang tak terduga dari seorang anak kecil.
Surah yang dibacanya memang sarat makna. Delapan ayat itu mengajarkan tentang optimisme, kelapangan hati, dan janji bahwa selalu ada kemudahan setelah kesulitan. Berikut arti lengkapnya:
Artikel Terkait
Inter Milan Bertekuk Lutut di Liga Champions, Kini Hadapi Ujian Bangkit Lawan Pisa
Banjir Rendam 31 Desa di Bekasi, Jalanan Berubah Jadi Kolam
Khozinudin Tolak Damai: SOP Solo Dituding Upaya Pecah Belah Penggugat
Iran Hormati Langkah Indonesia, Tapi Tegaskan Perdamaian Gaza Harus Dimulai dari Akhiri Pendudukan