Kalau itu bukan bentuk "kolonialisme baru", lalu apa?
Kolonialisme lamanya pun tak kalah kelam. Ambil kasus Aljazair. Sekitar 1,5 juta warga Aljazair tewas selama perang kemerdekaan melawan Prancis antara 1954 hingga 1962. Macron sendiri pernah mengakui kolonisasi di sana adalah "kejahatan terhadap kemanusiaan", yang diwarnai penyiksaan dan kekejaman massal. Tapi permintaan maaf resmi? Itu tidak pernah datang.
Dan Prancis bukan satu-satunya. Banyak kekuatan Eropa lain yang kini bersuara lantang menentang kolonialisme punya sejarah hitam yang panjang. Dari Afrika ke Asia, Timur Tengah hingga belahan dunia lain, sulit mencari sejengkal tanah yang tak tersentuh penjarahan, perbudakan, atau pembantaian massal oleh Eropa selama berabad-abad.
Spanyol memusnahkan populasi pribumi di Amerika. Inggris membuat kekacauan di hampir setiap tanah jajahannya. Lalu ada Raja Leopold II dari Belgia. Di bawah kekuasaannya di "Negara Bebas Kongo" yang dianggap milik pribadinya, sekitar 10 juta orang Kongo tewas sejak 1885.
Kehidupan di sana begitu mengerikan. Sejarah mencatat, desa-desa yang gagal memenuhi kuota karet dipaksa menyerahkan tangan-tangan yang dipotong. Baru pada 2022, Raja Belgia Philippe menyampaikan "penyesalan terdalam". Tapi permintaan maaf resmi? Lagi-lagi, tidak.
Di Ethiopia, pendudukan militer Italia pada 1937 memusnahkan 19–20 persen populasi Addis Ababa hanya dalam tiga hari. Daftar kekejaman Eropa ini masih bisa diperpanjang.
Ini semua bukan pembenaran untuk Trump, tentu saja. Dia tak punya hak untuk melakukan penjarahan baru. Ini cuma pengingat sederhana: menentang kolonialisme tak bisa dilakukan secara pilah-pilih. Greenland sendiri, patut diingat, adalah koloni penuh Denmark hingga belum lama ini.
Di sisi lain, lihatlah respons Eropa terhadap genosida yang berlangsung di Gaza. Selama lebih dari dua tahun, pembantaian massal oleh Israel ini tidak dihadapi dengan kemarahan yang memadai. Yang muncul justru kritik dangkal dan keterlibatan yang setengah hati.
Sementara pembunuhan terus berlanjut dengan dalih gencatan senjata yang dimediasi AS masa depan Gaza justru digambar sesuai visi Trumpian. Rencananya, wilayah itu akan dikelola sebuah "Dewan Perdamaian". Ketuanya? Donald Trump sendiri.
Anggotanya termasuk Benjamin Netanyahu, perdana menteri Israel yang menjadi arsitek genosida ini. Inilah wajah "kolonialisme baru" dalam bentuknya yang paling menyeramkan.
Sayangnya, kemunafikan yang berlumuran darah bukanlah hal baru di panggung dunia. []
Artikel Terkait
Tanggul Jebol di Depok, Banjir Rendam Permukiman Warga
Saksi Kunci UGM Bantah Foto Ijazah Jokowi di Sidang Solo: Wajahnya Tidak Sama
Trump Kerahkan Armada ke Perairan Iran, Tapi Berharap Tak Perlu Digunakan
Pendidikan Nasional 2025: Capaian dan Ketangguhan di Tengah Bencana