Hingga akhir Februari 2026, kas negara mendapat angin segar dari sektor pajak. Kementerian Keuangan melaporkan, penerimaan pajak bersih yang sudah benar-benar masuk ke APBN mencapai Rp245,1 triliun. Angka ini melesat jauh, tepatnya 30,4 persen, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp188 triliun.
Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengonfirmasi hal ini dalam jumpa pers APBN Kinerja dan Fakta, Kamis (12/3).
"Secara neto yang betul-betul masuk cash-nya ke APBN adalah 30,4 persen tumbuhnya di Januari-Februari," ujarnya.
Lalu, apa yang mendorong kenaikan signifikan ini? Rupanya, andil terbesarnya datang dari Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan PPN Barang Mewah (PPnBM). Penerimaan dari kedua jenis pajak ini nyaris melonjak dua kali lipat, naik 97,4 persen menjadi Rp85,9 triliun.
Menurut Suahasil, angka ini adalah cerminan langsung dari membaiknya aktivitas ekonomi di lapangan. Transaksi yang bergerak lebih kencang otomatis mendongkrak setoran PPN.
"Kegiatan ekonomi berjalan terus, makanya ada penerimaan PPN," jelasnya.
Di sisi lain, kontribusi dari pajak penghasilan juga menunjukkan tren positif. PPh untuk badan usaha tumbuh 4,4 persen menjadi Rp23,7 triliun. Sementara itu, gabungan PPh Orang Pribadi dan PPh Pasal 21 merangkak naik 3,4 persen ke angka Rp29 triliun.
Artikel Terkait
Gejolak Harga Minyak Ancam BBM, Pengemudi Ojol Beralih Listrik Justru Tenang
Lima Kapal Diserang dalam Dua Hari, Keamanan Jalur Vital Teluk Makin Terancam
Prabowo Serukan Penghentian Aksi Militer ke MBS, Siap Jadi Mediator
Kemkomdigi Perketat Patroli Siber untuk Tangkal Penipuan Mudik dan Hoaks Jelang Lebaran