“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” QS. Al-Qamar: 45
Menurutnya, ayat yang turun di Mekah itu punya pola yang relevan. Dulu, kaum Muslim lemah, dianiaya, tanpa tentara. Sementara Quraisy dan sekutunya punya dominasi militer yang tak terbantahkan. Logika material mana pun tak akan meramalkan kemenangan di Badr. Tapi itulah yang terjadi.
Pola itu, katanya, terulang. Koalisi mana pun sekalipun menyebut diri “Dewan Perdamaian” yang dibangun di atas kesombongan dan ketidakadilan, tak akan bertahan. Tak peduli seberapa kaya, bersatu, atau kuat militernya.
Di sisi lain, apa yang disebut “rekonstruksi” oleh Kushner dinilainya bukan pembaruan. Itu cuma kelanjutan dari logika dominasi yang sama. Cuma dibalut dengan bahasa pembangunan yang manis. Sebuah upaya, dalam pandangannya, untuk menghapus suatu bangsa dan menggantinya dengan proyek impian orang lain.
“Tidak akan ada pembangunan kembali Gaza sesuai citra mereka,” tegas Huthaifa.
Baginya, Gaza punya karakter yang tak tergantikan. Gaza, tulisnya dengan nada epik, tidak pernah dan tidak akan bisa ditaklukkan oleh intrik. Tempat itu selalu menjadi dan akan tetap kuburan bagi ambisi-ambisi besar. Tempat di mana kekuatan runtuh, narasi hancur, dan rencana-rencana megah akhirnya terkubur.
(✍🏻Huthaifa | حذيفة)
Artikel Terkait
Trump Kerahkan Armada ke Perairan Iran, Tapi Berharap Tak Perlu Digunakan
Pendidikan Nasional 2025: Capaian dan Ketangguhan di Tengah Bencana
Saksi Sidang Ijazah Jokowi di Solo: Wajah di Foto Itu Bukan yang Saya Salami
Korban Terakhir Kecelakaan Pangkep Ditemukan, Tim SAR Berkaca-kaca