Sebelum BNPB datang, yang ada cuma tenda dari relawan Wahana Muda Indonesia (WMI). Mereka adalah yang pertama tiba. Bersama warga, mereka membersihkan lumpur yang memenuhi dalaman masjid. Butuh kerja keras, tapi akhirnya masjid itu bisa digunakan kembali.
Dan Masjid Nurussalam ini bukan bangunan biasa. Dia adalah satu-satunya bangunan yang masih berdiri kokoh saat banjir bandang melanda Lubuk Sidup. Dulu, ia jadi tempat perlindungan sementara bagi warga yang kehilangan segalanya. Kini, masjid itu lebih dari sekadar tempat ibadah. Ia jadi simbol harapan, pengingat akan kebersamaan yang menyelamatkan.
Handriansyah, Ketua Umum WMI, menceritakan bahwa organisasinya telah melakukan program pendampingan intensif bagi penyintas di desa tersebut.
Mereka mendirikan tenda hunian sementara, posko kesehatan, MCK, hingga memasang pipa air bersih. Bantuan juga berupa family kit, perlengkapan masak, kompor gas, sampai peralatan bangunan seperti gergaji dan paku untuk memulai kembali.
"Selain di Aceh Tamiang, kami juga buka posko di Aceh Timur, Bireun, dan Pidie Jaya. Rencananya, program bantuan akan kami perluas lagi ke Bener Meriah dan Takengon," ujar Handriansyah.
Perjalanan pemulihan Aceh Tamiang masih panjang. Lumpur mungkin perlahan hilang, tapi bekas luka di hati warga butuh waktu lebih lama untuk sembuh.
Artikel Terkait
Trump Kerahkan Armada ke Perairan Iran, Tapi Berharap Tak Perlu Digunakan
Pendidikan Nasional 2025: Capaian dan Ketangguhan di Tengah Bencana
Saksi Sidang Ijazah Jokowi di Solo: Wajah di Foto Itu Bukan yang Saya Salami
Korban Terakhir Kecelakaan Pangkep Ditemukan, Tim SAR Berkaca-kaca