Prabowo di Davos: Antara Kebahagiaan Tertinggi dan Realita Pahit Rakyat

- Kamis, 22 Januari 2026 | 23:48 WIB
Prabowo di Davos: Antara Kebahagiaan Tertinggi dan Realita Pahit Rakyat

Di tengah keramaian World Economic Forum di Davos, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan perasaan yang bertolak belakang. Ia mengaku senang, bahkan bangga, mendengar kabar dari survei Harvard University dan Gallup Poll. Hasilnya? Tingkat kebahagiaan rakyat Indonesia disebut-sebut sebagai yang tertinggi di dunia.

Tapi perasaan itu tak berlangsung lama. Di sisi lain, ada rasa sedih yang menyelip. Bagaimana tidak, di balik angka yang membanggakan itu, ia tahu betul masih banyak warganya yang hidup serba susah.

"Gallup Poll dan Harvard University menemukan bahwa survei penelitian terhadap ratusan negara menemukan bahwa Indonesia, rakyat Indonesia adalah orang yang paling bahagia,"

Ucap Prabowo di Davos, Kamis lalu. Suasana forum elit dunia itu seketika menjadi saksi pernyataan yang dalam.

"Ini sedikit membesarkan hati, tetapi bagi saya, juga sedikit menyedihkan,"

Katanya lagi, melanjutkan. Nada suaranya terdengar berubah. Kebahagiaan yang terungkap dalam survei itu, baginya, justru menyoroti sebuah kontras yang tajam dengan realita sehari-hari.

Menurutnya, kemiskinan masih menjadi bayang-bayang panjang bagi sebagian masyarakat. Hal-hal yang bagi banyak orang dianggap primer, bagi mereka adalah kemewahan yang sulit didapat.

"Saya tahu rakyat saya. Banyak dari mereka tinggal di gubuk-gubuk. Banyak dari mereka tidak memiliki air bersih. Banyak dari mereka tidak memiliki kamar mandi. Banyak dari mereka makan nasi dengan garam,"

Penjelasannya gamblang, tanpa tedeng aling-aling. Ia menggambarkan sebuah kehidupan yang keras, yang mungkin tak terbayang oleh banyak peserta forum.

Namun begitu, di situlah letak keajaibannya. Di tengah segala kekurangan itu, semangat mereka tak padam.

"Namun mereka tersenyum. Dan namun mereka memiliki harapan,"

Ungkap Prabowo. Dua kalimat pendek itu seakan menyimpulkan seluruh kompleksitas perasaannya: sebuah kebanggaan yang pahit, dan kesedihan yang tetap menyisakan secercah cahaya.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar