Artinya, status Indonesia saat ini bukan anggota permanen. Jadi, wacana setor triliunan rupiah itu belum relevan untuk dibahas.
Di sisi lain, keterlibatan ini bukan datang tiba-tiba. Menurut Nabyl, langkah ini sejalan dengan dukungan Dewan Keamanan PBB dan perjuangan panjang Indonesia untuk kemerdekaan Palestina. Ia menekankan prinsip two-state solution berdasarkan hukum internasional.
Keputusan bergabung ini sendiri diumumkan lewat sebuah pernyataan bersama. Menteri Luar Negeri Sugiono, bersama dengan tujuh koleganya dari Turki, Mesir, Yordania, Pakistan, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, menyatakan kesiapan mereka pada Kamis (22/1/2026).
Intinya, pemerintah ingin diplomasi ini dilihat sebagai ikhtiar nyata. Sebuah upaya konkret di tengah peta politik yang rumit, dengan harapan bisa membawa angin perubahan bagi warga Gaza yang telah lama menderita.
Artikel Terkait
Jakarta Terapkan Sekolah Daring, Antisipasi Cuaca Ekstrem hingga Akhir Januari
Prabowo Buka Suara di Davos: Dari Menolak Undangan hingga Pamer Prestasi Setahun Memimpin
Konten Pandji Pragiwaksono Soal Sholat Dilaporkan ke Polda Metro Jaya
Live3D AI Face Swap: Ganti Wajah di Video Cuma Modal Browser, Tanpa Bayar