Trump Klaim AS Kini Mengendalikan Venezuela Usai Penangkapan Maduro

- Selasa, 06 Januari 2026 | 07:30 WIB
Trump Klaim AS Kini Mengendalikan Venezuela Usai Penangkapan Maduro

Pada Minggu (4/1) lalu, Presiden AS Donald Trump membuat pernyataan yang cukup mengguncang. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat kini "mengendalikan" Venezuela. Pernyataan ini keluar tak lama setelah operasi militer yang berhasil menangkap Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya, Cilia Flores.

Namun begitu, di sisi lain, Washington ternyata sudah membuka jalur komunikasi dengan kepemimpinan baru di Caracas. Trump sendiri terlihat enggan bertele-tele ketika mendapat desakan wartawan untuk memperjelas maksud pernyataannya itu.

Soal siapa sebenarnya yang kini berkuasa di Venezuela, Trump memilih bersikap diplomatis atau mungkin justru ambigu. "Jangan tanya siapa yang berkuasa, karena jawabannya akan sangat kontroversial," katanya, menanggapi pertanyaan apakah ia telah berbicara dengan pemimpin sementara Venezuela, Delcy Rodriguez.

Penangkapan Maduro sendiri bukan tanpa alasan. Jaksa Penuntut AS telah lama mendakwa pria itu dengan sejumlah tuduhan berat. Ia dituduh membuka rute perdagangan kokain, memanfaatkan militer sebagai pengawal pengiriman, serta melindungi kelompok-kelompok kartel besar seperti Sinaloa dan Geng Tren de Aragua. Bahkan fasilitas kepresidenan disebut-sebut dipakai untuk memindahkan narkoba. Maduro tentu saja membantah semua tuduhan ini.

Dakwaan yang pertama kali diajukan pada 2020 itu diperbarui lagi Sabtu lalu, kali ini untuk menjerat istrinya, Celia Flores, dengan tuduhan memerintahkan penculikan dan pembunuhan.

Lantas, apa sebenarnya tujuan AS? Saat ditanya apakah misinya adalah minyak atau sekadar ganti rezim, Trump menjawab dengan kalimat yang luas: "Ini tentang perdamaian dunia."

Meski demikian, pemerintahan Trump secara terbuka menyatakan kesediaannya bekerja sama dengan sisa-sisa pemerintahan Maduro. Syaratnya jelas: kepentingan Washington harus terpenuhi. Dan salah satu fokus utamanya adalah membuka kran investasi AS untuk menyentuh cadangan minyak mentah Venezuela yang sangat besar itu.

Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, sepertinya ingin meredam spekulasi. Dalam wawancara dengan NBC, ia menegaskan bahwa Washington tidak punya niat untuk melakukan perubahan rezim secara total atau buru-buru menggelar pemilu.


Halaman:

Komentar