Bulan Rajab datang lagi, membawa aura kesuciannya yang khas. Sebagai salah satu asyhurul hurum, bulan ini memang istimewa. Di masjid-masjid, ceramah kerap menyerukan puasa sunah, istighfar, dan doa. Tapi, ada pertanyaan yang jarang terdengar: apakah kesalehan kita di bulan mulia ini juga berlaku untuk sungai yang penuh sampah, hutan yang gundul, atau udara yang sudah tercemar?
Di sinilah Rajab menjadi menarik kalau kita tilik dari sudut pandang ekologi. Sebab, bulan ini bukan cuma soal hubungan kita dengan Yang Maha Kuasa. Ia juga bicara tentang etika kita terhadap semesta. Alam, dalam kitab suci, bukanlah properti yang bisa seenaknya dieksploitasi. Ia adalah amanah.
Al-Qur’an berulang kali menyebut alam sebagai tanda kebesaran-Nya. Coba lihat QS. Ar-Rum ayat 41. Di sana jelas disebut, kerusakan di darat dan laut itu ulah tangan manusia sendiri. Ayat ini sering kali dibaca sekadar sebagai peringatan normatif. Padahal, kalau direnungkan, ia adalah kritik ekologis paling awal dalam sejarah peradaban kita.
Para mufasir masa kini melihat ayat itu sebagai alarm peringatan soal ketimpangan ekologis. Watak eksploitatif manusia seringkali mengganggu mizan keseimbangan yang dalam Al-Qur’an disebut sunnatullah. Merusak alam, dengan kata lain, adalah bentuk pembangkangan terhadap tatanan ilahi. Ini dosa struktural yang sayangnya, jarang jadi bahan khutbah.
Nabi Muhammad SAW sendiri adalah teladan ekologi yang praktis. Suatu riwayat dari Imam Muslim mencatat, beliau melarang menyia-nyiakan air, bahkan saat berwudhu di sungai yang deras. Ini bukan cuma soal aturan fiqih. Lebih dari itu, ini prinsip keberlanjutan yang diajarkan jauh sebelum istilah ‘sustainability’ jadi jargon konferensi-konferensi internasional.
Ada hadis lain yang tak kalah powerful. Sabda beliau, “Jika kiamat terjadi sementara di tanganmu ada benih, maka tanamlah.”
Kalimatnya sederhana, tapi maknanya dalam sekali: harapan untuk merawat bumi tak pernah boleh padam, bahkan di ujung kehancuran sekalipun.
Sejarah juga mencatat ketegasan Umar bin Khattab. Khalifah kedua ini melarang penggembalaan berlebihan yang merusak padang rumput umum (hima). Langkahnya itu bisa disebut sebagai kebijakan lingkungan berbasis keadilan sosial yang sangat awal. Alam dijaga bukan untuk keindahan semata, tapi demi kehidupan bersama yang berkelanjutan.
Ali bin Abi Thalib punya pesan yang relevan sampai sekarang. Katanya, bumi ini titipan untuk generasi mendatang. Pernyataan itu terdengar sangat modern, mirip dengan konsep etika lintas generasi yang ramai dibahas dalam diskusi pembangunan berkelanjutan saat ini.
Artikel Terkait
Tiang Monorel Mangkrak di Rasuna Said Akhirnya Dibongkar Malam Ini
Skripsi yang Tersandera Birokrasi: Gelar atau Gagasan?
Cinta yang Lelah di Tanah yang Terus Dijarah
Bolsonaro Terjatuh di Balik Jeruji, Dilarikan ke Rumah Sakit