Rencana akuisisi besar-besaran sedang digodok oleh PT Harta Djaya Karya Tbk, atau MEJA. Perusahaan ini mengincar PT Trimata Coal Perkasa (TCP), sebuah tambang batu bara berkualitas tinggi yang berlokasi di Banyuasin, Sumatera Selatan. Nilai transaksinya? Tidak main-main, mencapai USD 100 juta atau sekitar Rp 1,6 triliun untuk 45% saham TCP.
Namun begitu, MEJA bukan satu-satunya peminat. Ada pihak lain yang juga berminat menguasai sisa 55% saham. Jika deal ini berjalan mulus, pihak lain tersebut nantinya akan berperan sebagai kontraktor pertambangan di lapangan.
Prosesnya sudah berjalan. Saat ini, MEJA tengah menjalani tahap uji tuntas atau due diligence terhadap TCP. Masa tenggatnya 60 hari, terhitung sejak penandatanganan perjanjian awal pada 22 Desember 2025. Artinya, semua detail akan dikupas tuntas sebelum keputusan final diambil.
Direktur Utama MEJA, Ritchie Adrian Hartanto, secara khusus menegaskan satu hal penting.
"PT Trimata Coal Perkasa tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perseroan maupun pengendali perseroan,"
Begitu penegasannya dalam surat resmi ke BEI yang dikeluarkan Senin lalu, 5 Januari 2026. Pernyataan ini jelas ingin menghapus keraguan tentang adanya hubungan istimewa di balik transaksi ini.
Lalu, siapa sebenarnya pemilik TCP? Ritchie menjelaskan bahwa perusahaan ini dikuasai oleh keluarga Wirjoatmodjo. Kepemilikannya dipegang oleh Subagio Wirjoatmodjo (98,33%) dan Sukaraharjo Wirjoatmodjo (1,67%).
Aset utama TCP tentu saja izin tambangnya. Perusahaan ini memegang IUP seluas 11.640 hektare yang masih berlaku hingga November 2033. Menariknya, lokasi tambang ini satu kabupaten dengan perusahaan milik Subagio lainnya, PT Trimata Benua, yang mengelola areal 4.349 hektare. Sebuah konsentrasi kepemilikan yang patut dicatat.
Di sisi lain, bagaimana MEJA membiayai akuisisi sebesar ini? Rupanya, kondisi kas mereka tidak cukup gemuk. Hingga akhir September 2025, kas dan setara kas mereka cuma Rp 31,56 miliar, dengan total aset sekitar Rp 107 miliar. Jadi, skemanya akan menggunakan mekanisme share swap yang dilakukan bertahap, didukung oleh pelaksanaan rights issue. Cara yang cukup umum untuk transaksi bernilai fantastis.
Semua mata kini tertuju pada hasil due diligence dalam beberapa minggu ke depan. Apakah rencana ambisius ini akan terwujud?
Artikel Terkait
Harga Emas Melonjak Didorong Perlambatan Ekonomi AS dan Ketidakpastian Kebijakan Trump
OJK Denda Influencer Saham Rp5,35 Miliar, Praktik Goreng Saham Berevolusi
BEI Bakal Evaluasi Kebijakan Full Call Auction di Kuartal II
Analis Proyeksikan IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan Pekan Depan