MURIANETWORK.COM - Sebuah kampung di pelosok Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, menyimpan jejak penting penyebaran Islam di Nusantara. Kampung Pompanua di Kecamatan Ajangale itu dahulu menjadi tempat bermukim dan berdakwah Syekh Abdul Majid, seorang ulama kharismatik abad ke-19 yang membawa serta mengajarkan Tarekat Idrisiyyah. Keturunannya, Fadly Ibrahim, mengungkapkan warisan keilmuan sang ulama yang masih tersisa, meski sebagian telah rusak dimakan waktu.
Pusat Dakwah dan Transmisi Ilmu dari Haramayn
Lahir di Pompanua pada 1820, Syekh Abdul Majid bin Abdul Hayyi al-Jawi al-Bugisi tumbuh dalam lingkungan keluarga yang kuat tradisi keilmuannya. Fondasi inilah yang dibawanya ketika berangkat ke Mekah pada 1834. Di tanah suci itu, ia bermukim selama sekitar 26 tahun, larut dalam tradisi keilmuan Islam Haramayn bersama ketiga saudaranya.
Kepulangannya ke tanah Bone sekitar tahun 1860 menandai babak baru. Ia melanjutkan dan mengembangkan pengajian yang dirintis orang tuanya di Pompanua. Kehadirannya menjadi jembatan intelektual yang vital, mentransmisikan khazanah keilmuan Timur Tengah ke kerajaan-kerajaan di wilayah TellumpoccoE dan TellulimpoE. Kedalaman ilmunya bahkan menginspirasi banyak ulama Bugis untuk menuntut ilmu ke Mekah pada akhir abad ke-19.
Untuk memastikan keberlangsungan dakwah, Syekh Abdul Majid membekali anak-cucunya dengan ilmu agama sejak dini. Strategi ini terbukti efektif. Beberapa keturunannya kemudian menjadi parewa syara' (pemimpin agama) terkemuka di Pompanua, seperti AGH Abdul Hayyi al Bugisi (1915), AGH Muhammad Khalifah al-Bugisi (1922), AGH Ahmad Surur al-Bugisi (1932), dan AG Muhyiddin (1943).
Guru-Guru Besar dan Karya Tulis yang Abadi
Selama di Haramayn, Syekh Abdul Majid berguru kepada sejumlah ulama terkemuka. Di antaranya adalah Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusy, Syekh Yusuf Sumbulaweni, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, dan Syekh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah al-Maliki. Ia dikenal sebagai ulama yang sangat sadar akan pentingnya literasi.
Aktivitas penyalinan dan penulisan naskah dilakukannya baik di Mekah, termasuk di rumah wakaf Syekh al-Khatib Abubakar Palakka, maupun setelah menetap di Pompanua. Kesadaran literasi ini menghasilkan warisan keilmuan yang mengagumkan.
Di antara karya-karyanya yang masih tersimpan di Pompanua adalah syarah (penjelasan) atas berbagai kitab, seperti Hizb Imam Nawawi, Sholawat Badawi, dan al-Aziziy ‘ala Jami’ Asshagir. Ia juga menulis karya asli seperti "Asrar al Shalat al Mubarak" dan sejumlah kumpulan doa serta shalawat. Sebuah mushaf Al-Quran tulisan tangannya dari tahun 1845, yang dilengkapi penjelasan Qira'ah Sab'ah, juga telah diidentifikasi di Sinjai.
Keluarga besar Syekh Abdul Majid memang dikenal sebagai rumpun ulama penulis mushaf. Kakaknya, Syekh Ahmad Umar, adalah penulis mushaf yang kini disimpan di Museum Balla Lompoa Gowa. Sementara itu, beberapa karya Syekh Abdul Majid lainnya juga menjadi koleksi Museum Bayt Al-Quran di TMII, Jakarta.
Keterikatan Spiritual pada Tarekat Sanusiyah Muhammadiyah
Kecintaan pada ilmu membawanya semakin dekat dengan salah satu gurunya, Sayyid Muhammad bin Ali as-Sanusy. Demi lebih banyak menyerap ilmu, Syekh Abdul Majid bahkan tinggal dan berkhidmat di rumah sang guru di Jabal Qubais selama lima tahun.
Dari gurunya inilah ia menerima ijazah Tarekat Sanusiyah Muhammadiyah. Dalam beberapa kolofon naskahnya, ia dengan jelas menyebut diri sebagai penganut mazhab Syafi'i, beraqidah Asy'ariyah, dan bertarekat Muhammadiyah. Untuk menjaga pertalian spiritual ini, ia mengijazahkan wirid Muhammadiyah kepada anak, murid, dan keluarganya.
Artikel Terkait
Polisi Ungkap Motif Judi Online di Balik Pembunuhan dan Mutilasi Ibu Kandung di Lahat
Ayah di Batam Diduga Setubuhi Anak Kandungnya Sejak Usia 7 Tahun
Roti Maros, Camilan Manis Khas Sulawesi Selatan dengan Isian Selai Srikaya
Menteri Pertanian Soroti Rembesan Gula Rafinasi yang Rugikan Petani dan BUMN