Sabtu dini hari yang sepi di Cipayung, Depok, tiba-tiba ricuh. Suara bentrok sekelompok remaja memecah keheningan. Polisi pun bergerak. Hasilnya, sepuluh remaja yang terlibat tawuran itu diamankan. Tapi, langkah yang diambil polisi kali ini berbeda. Alih-alih langsung diproses hukum, kesepuluh remaja itu justru dibawa ke sebuah program pesantren kilat yang digelar di Polres Metro Depok.
Menurut AKP Made Budi, selaku Kasi Humas, penangkapan terjadi sekitar pukul 01.30 WIB di Jalan Rawasari 2. “Pesantren kilat kemarin sudah dimulai, 10 pelajar yang diamankan karena tawuran sudah masuk,” ujarnya pada Minggu (22/2).
“Anak-anak tersebut langsung melaksanakan program pesantren kilat di Masjid Polres.”
Program ini tak main-main. Para remaja itu didata ulang dengan disaksikan langsung oleh orang tua masing-masing. Ritme harian mereka pun diatur, dengan fokus pada pembinaan spiritual. Mereka diwajibkan melaksanakan salat lima waktu berjamaah. Tujuannya jelas: mengingatkan mereka pada tanggung jawab kepada Tuhan dan keluarga.
Di sisi lain, bimbingan juga diberikan secara intens oleh Kasat Binmas dan Kanit Bintibsos. Intinya, mereka diajak untuk berpikir ulang tentang masa depan dan menyadari betapa berharganya kasih sayang orang tua. Jangan sampai terbuang percuma karena emosi sesaat.
“Ketua DKM Masjid Al Ikhlas AKP H Saimun dan Aiptu Mulyasari memberikan arahan dan penyuluhan serta mengajak anak-anak baca alquran kepada anak-anak yang mengikuti pesantren kilat,” jelas Made lagi.
Rupanya, ini adalah bagian dari rencana yang sudah dicanangkan. Sebelumnya, Kapolres Metro Depok Kombes Abdul Waras sudah mengisyaratkan langkah ini. Saat Ramadan, pelaku tawuran akan dibina secara khusus.
“Jadi salah satu yang menjadi perhatian kami adalah masalah tawuran,” kata Abdul Waras pada Rabu (18/2).
“Bagaimana anak-anak yang terlibat tawuran ini nanti akan kita ikutkan di pondok pesantren kilat.”
Harapannya tentu besar. Abdul Waras bertekad mengurangi aksi brutal yang sering merugikan lingkungan dan menimbulkan keresahan itu. Dia ingin menyentuh sisi kesadaran para remaja.
“Intinya kami ingin mengurangi niatan anak-anak kita, adik-adik kita untuk melakukan tawuran,” tegasnya.
“Karena ini sangat merugikan. Apabila adik-adik ini masih ngotot, nekat, tawuran, nanti akan kita masukan ke pondok pesantren kilat di Polres Metro Depok.”
Jadi, itulah langkah yang ditempuh. Bukan sekadar menangkap, tapi mencoba memulihkan. Hasilnya? Masih harus ditunggu. Tapi setidaknya, ada pendekatan baru yang coba dihadirkan di tengah persoalan klasik bernama tawuran pelajar.
Artikel Terkait
Indonesia dan AS Tandatangani Perjanjian Dagang Bilateral, Tarif 32% Ditekan Jadi 19%
Warga Teheran Bersiap Hadapi Eskalasi Konflik di Tengah Ultimatum AS-Iran
Pemerintah Jelaskan Detail Perjanjian Dagang Indonesia-AS, Tegaskan Tak Ganggu Industri Domestik
Trump Umumkan Rencana Kirim Kapal Rumah Sakit ke Greenland