Layar kini lebih sering kita tatap ketimbang wajah sesama. Di tengah arus digital ini, cinta pun tak luput dari penyederhanaan. Dulu, perasaan tumbuh lewat percakapan panjang, kesabaran, dan waktu yang dihabiskan bersama. Sekarang? Seringkali ia disimpulkan hanya dari tayangan video singkat, durasinya cuma hitungan detik. Algoritma yang pada dasarnya cuma mesin penyaring data pelan-pelan naik jabatan. Ia berubah jadi semacam hakim yang menentukan siapa layak dicintai dan siapa yang harus dicap punya red flag.
Nah, banyak perempuan sekarang ini bukan generalisasi ya mulai menilai lelaki bukan dari proses saling mengenal. Mereka lebih sering merujuk pada narasi-narasi yang viral di media sosial. Lihat saja, satu konten bilang sikap posesif itu red flag. Konten lainnya menuding bahwa diamnya seseorang adalah tanda manipulatif. Akibatnya, lelaki tak lagi dilihat sebagai manusia utuh yang punya latar belakang, luka, dan proses pertumbuhan. Mereka direduksi jadi sekumpulan gejala yang harus cocok dengan daftar standar buatan algoritma.
Sebenarnya, soal kewaspadaan itu wajar-wajar saja. Hati-hati dalam menjalin relasi justru bentuk kecerdasan emosional. Tapi persoalan muncul ketika kehati-hatian itu berubah jadi kecurigaan instan. Kebijaksanaan digantikan oleh potongan-potongan "edukasi" yang seringkali tanpa konteks. Ilmu psikologi dipadatkan jadi slogan-slogan. Karakter seseorang diringkas cuma jadi sebuah caption. Cinta akhirnya kehilangan ruang untuk berbuat salah, untuk belajar, dan untuk bertumbuh bersama.
Ini yang ironis: saat sebuah hubungan akhirnya gagal, yang disalahkan biasanya sang pasangan. Bukan standar-standar tak realistis yang sejak awal dibentuk oleh gempuran konten di layar. Algoritma ditinggikan jadi ukuran mutlak kebenaran. Tapi ketika hasilnya pahit, manusialah yang menanggung sendiri kekecewaannya. Mesin tak pernah merasakan patah hati; kitalah yang terjaga semalaman memikirkan kenapa segalanya berantakan.
Dalam urusan cinta, nggak semua yang berwarna merah itu bendera bahaya. Ada luka lama yang belum sembuh total, ada diam yang lahir dari kehati-hatian, ada rasa cemburu yang sebenarnya masih bisa diarahkan jadi bentuk kepedulian. Sayangnya, dunia digital kita sangat gemar memotong proses. Seolah setiap kekurangan adalah alasan final untuk pergi, bukan sebuah pintu masuk untuk mulai memahami lebih dalam.
Pada dasarnya, cinta yang sehat itu nggak lahir dari daftar viral mana pun. Ia lahir dari kesediaan kita untuk mengenal seseorang secara utuh. Cinta butuh waktu bukan cuma gerakan jari scroll layar. Ia menuntut dialog dua arah, bukan vonis sepihak yang cepat keluar. Kalau algoritma jadi ukuran utama, ya hubungan memang akan terlihat rapi di permukaan. Tapi di dalamnya, ia rapuh dan mudah retak.
Mungkin inilah waktunya kita turunkan algoritma dari singgasananya. Biarkan ia tetap jadi alat hiburan, bukan penentu nilai diri seseorang. Soalnya, cinta yang diserahkan sepenuhnya pada mesin, cepat atau lambat, akan menemui kegagalan. Dan kita hanya bisa mengeluh, tanpa sadar bahwa sejak awal, tolok ukur yang kita pakai memang sudah keliru.
Artikel Terkait
21 Wisatawan Terjebak Banjir Bandang di Sungai Usa Bone Berhasil Dievakuasi Selamat
Kondisi Nadiem Makarim Membaik Usai Operasi, Tetap Siap Baca Pleidoi Pekan Depan
Pemerintah Siapkan Rp4,97 Triliun untuk Subsidi Beras SPHP 2026, Batas Pembelian Konsumen Diperlonggar
Wali Kota Makassar Resmikan Sekretariat Baru IKA FH Unhas, Aktifkan Kembali Organisasi yang Sempat Vakum