Ketika Algoritma Menjadi Hakim Cinta: Red Flag yang Menggerus Relasi Manusia

- Rabu, 07 Januari 2026 | 21:00 WIB
Ketika Algoritma Menjadi Hakim Cinta: Red Flag yang Menggerus Relasi Manusia

Layar kini lebih sering kita tatap ketimbang wajah sesama. Di tengah arus digital ini, cinta pun tak luput dari penyederhanaan. Dulu, perasaan tumbuh lewat percakapan panjang, kesabaran, dan waktu yang dihabiskan bersama. Sekarang? Seringkali ia disimpulkan hanya dari tayangan video singkat, durasinya cuma hitungan detik. Algoritma yang pada dasarnya cuma mesin penyaring data pelan-pelan naik jabatan. Ia berubah jadi semacam hakim yang menentukan siapa layak dicintai dan siapa yang harus dicap punya red flag.

Nah, banyak perempuan sekarang ini bukan generalisasi ya mulai menilai lelaki bukan dari proses saling mengenal. Mereka lebih sering merujuk pada narasi-narasi yang viral di media sosial. Lihat saja, satu konten bilang sikap posesif itu red flag. Konten lainnya menuding bahwa diamnya seseorang adalah tanda manipulatif. Akibatnya, lelaki tak lagi dilihat sebagai manusia utuh yang punya latar belakang, luka, dan proses pertumbuhan. Mereka direduksi jadi sekumpulan gejala yang harus cocok dengan daftar standar buatan algoritma.

Sebenarnya, soal kewaspadaan itu wajar-wajar saja. Hati-hati dalam menjalin relasi justru bentuk kecerdasan emosional. Tapi persoalan muncul ketika kehati-hatian itu berubah jadi kecurigaan instan. Kebijaksanaan digantikan oleh potongan-potongan "edukasi" yang seringkali tanpa konteks. Ilmu psikologi dipadatkan jadi slogan-slogan. Karakter seseorang diringkas cuma jadi sebuah caption. Cinta akhirnya kehilangan ruang untuk berbuat salah, untuk belajar, dan untuk bertumbuh bersama.

Ini yang ironis: saat sebuah hubungan akhirnya gagal, yang disalahkan biasanya sang pasangan. Bukan standar-standar tak realistis yang sejak awal dibentuk oleh gempuran konten di layar. Algoritma ditinggikan jadi ukuran mutlak kebenaran. Tapi ketika hasilnya pahit, manusialah yang menanggung sendiri kekecewaannya. Mesin tak pernah merasakan patah hati; kitalah yang terjaga semalaman memikirkan kenapa segalanya berantakan.


Halaman:

Komentar