Dalam urusan cinta, nggak semua yang berwarna merah itu bendera bahaya. Ada luka lama yang belum sembuh total, ada diam yang lahir dari kehati-hatian, ada rasa cemburu yang sebenarnya masih bisa diarahkan jadi bentuk kepedulian. Sayangnya, dunia digital kita sangat gemar memotong proses. Seolah setiap kekurangan adalah alasan final untuk pergi, bukan sebuah pintu masuk untuk mulai memahami lebih dalam.
Pada dasarnya, cinta yang sehat itu nggak lahir dari daftar viral mana pun. Ia lahir dari kesediaan kita untuk mengenal seseorang secara utuh. Cinta butuh waktu bukan cuma gerakan jari scroll layar. Ia menuntut dialog dua arah, bukan vonis sepihak yang cepat keluar. Kalau algoritma jadi ukuran utama, ya hubungan memang akan terlihat rapi di permukaan. Tapi di dalamnya, ia rapuh dan mudah retak.
Mungkin inilah waktunya kita turunkan algoritma dari singgasananya. Biarkan ia tetap jadi alat hiburan, bukan penentu nilai diri seseorang. Soalnya, cinta yang diserahkan sepenuhnya pada mesin, cepat atau lambat, akan menemui kegagalan. Dan kita hanya bisa mengeluh, tanpa sadar bahwa sejak awal, tolok ukur yang kita pakai memang sudah keliru.
Artikel Terkait
KPK Tangkap Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo dalam Operasi di Jatim
Siswa Tewas Usai Senapan Rakitan Meledak Saat Ujian Praktik di Siak
ASN Kementan Ubah Pekarangan Sempit Jadi Model Ketahanan Pangan Keluarga
Suami Tewas Ditikam di Pelukan Istri di Lubuklinggau, Pelaku Masih Diburu