Kesunyian yang berat menggantung di udara di sebuah rumah di Jalan Purwo, Kelurahan Deli Tua. Ini adalah rumah duka. Di dalamnya, jenazah korban kecelakaan maut dengan kereta api di Tebing Tinggi baru saja tiba dan sedang dimandikan, bersiap untuk perjalanan terakhirnya. Peristiwa nahas itu terjadi Rabu petang, sekitar pukul setengah tujuh, di sebuah perlintasan yang sama sekali tak punya palang pintu.
Kepala Desa Mekar Sari, Juliadi, terlihat lelah dan sedih. Dia datang ke rumah duka itu Kamis pagi, wajahnya mencerminkan duka yang mendalam. "Yang menjadi korban adalah warga kami, enam orang," ujarnya, suaranya rendah.
Menurut penuturannya, dari enam warga desanya yang tewas, empat di antaranya berasal dari satu keluarga yang sama termasuk seorang balita. "Satu keluarga semua," tambahnya, menggeleng pelan.
Keluarga itu sebelumnya berangkat dari Deli Serdang untuk menghadiri sebuah acara keluarga di Batu Bara. Rupanya, rencana perjalanan mereka belum usai.
"Almarhum pergi ke tempat acara undangan keluarga. Kemudian pulangnya mau ke rumah keluarga yang sakit di Sei Sigiling," jelas Juliadi, merinci perjalanan terakhir mereka.
Kabar kecelakaan itu datang sebagai kejutan yang menyayat. "Saya kaget mendapatkan kabar dan langsung datang ke sini," tuturnya, menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Nastar hingga Kue Kacang: Kisah di Balik Kue Kering Wajib Lebaran
Once Mekel Dorong Keseimbangan Hak Cipta dan Akses Publik dalam Revisi UU
Batu Karst Pundo Siping, Kejutan Alam Fotogenik di Tengah Lahan Kering Jeneponto
Komisi VIII DPR Pastikan Persiapan Haji 2026 Berjalan, Arab Saudi Belum Beri Penjelasan Resmi