Suriah kini memegang kendali atas sebagian besar sumber daya alamnya. Ini pertama kalinya terjadi sejak 2011. Sebuah pencapaian yang cukup signifikan, tentu saja, setelah bertahun-tahun konflik yang melelahkan.
Memang, masih ada beberapa wilayah yang otonom. Sebut saja Hasakah Utara, Kobani, dan Suwayda. Tapi menurut analisis, nilai ekonominya bagi negara tak terlalu besar. Jadi, otonomi berkelanjutan mereka kemungkinan hanya memberi dampak kecil pada situasi domestik Suriah ke depan.
Di sisi lain, posisi Ahmed Al-Sharaa terlihat semakin kokoh. Kekuasaannya sudah terkonsolidasi dengan solid, mengubur ancaman keruntuhan negara yang dulu kerap menghantui. Ancaman itu kini sirna.
Nah, memasuki tahun 2026, tantangan Al-Sharaa bergeser. Bukan lagi soal bertahan atau berperang, melainkan membangun. Dia harus beralih ke penyusunan konstitusi permanen. Artinya, meninggalkan 'mentalitas perang' yang sudah mendarah daging dan benar-benar menegakkan supremasi hukum. Itu pekerjaan rumah yang tidak mudah.
Lalu, bagaimana dengan kelompok seperti YPG (Kurdi) dan Al-Hijriah (Druze) di kantong-kantong tadi? Pilihan mereka sebenarnya tak banyak.
Mereka harus mencapai kesepakatan dengan Damaskus. Titik.
Hanya dengan begitu mereka bisa ikut serta merancang konstitusi. Kalau tidak, ya mereka akan tetap terpinggirkan. Seperti tahun lalu, ketika mereka menolak bergabung dan akhirnya dikecualikan dari proses. Sejarah di sini sudah memberikan pelajaran yang cukup pahit. Sikap keras kepala dan tidak mau kompromi ibarat bunuh diri politik. Assad dulu menolak mengalah, dan akhirnya jatuh. SDF juga bersikeras, lalu kalah dalam perang. Semoga pihak-pihak yang masih bertahan sudah belajar dari kesalahan itu.
Kini, bola sepenuhnya ada di tangan Al-Sharaa. Dia tak punya alasan lagi untuk menunda. Setiap wilayah vital negara sudah berada dalam genggamannya. Menyusun konstitusi dan menghidupkan kembali parlemen Suriah harus jadi prioritas utama tahun ini. Tidak ada lagi waktu untuk ditunda.
(Mazen Hassoun)
Artikel Terkait
Unhas Kukuhkan Kembali Prof. Jamaluddin Jompa sebagai Rektor Periode 2026-2030
Riset 150 Tahun Ungkap Generasi Z dan Milenial Lebih Bodoh dari Pendahulunya, Ilmuwan Sebut Malapetaka Kognitif
Gubernur Kaltim Rudy Masud Minta Maaf soal Renovasi Rumah Dinas Rp25 Miliar, Janji Biayai Sendiri Item Non-Kedinasan
Harga Emas Antam Kembali Turun, Kini Rp2,809 Juta Per Gram