Prabowo Siapkan Utang Rp700 Triliun: Rakyat yang Menanggung Beban Pajak

- Kamis, 22 Januari 2026 | 08:40 WIB
Prabowo Siapkan Utang Rp700 Triliun: Rakyat yang Menanggung Beban Pajak

Tapi jaminan sesungguhnya jauh lebih sunyi dan jarang disebut di pidato resmi: pajak masa depan.

Setiap obligasi yang diterbitkan negara pada ujungnya dibayar dari penerimaan negara. Dan ketika penerimaan tak mencukupi, pajak adalah jalan paling lurus. Kenaikan PPN jadi 12% barulah permulaan. Ekstensifikasi pajak, pajak digital, cukai baru, sampai intensifikasi penagihan akan jadi menu harian Kementerian Keuangan.

Pajak tak selalu naik lewat tarif. Ia sering naik diam-diam. Lewat pengurangan insentif, penghapusan pengecualian, atau perluasan objek pajak. Rakyat biasanya baru ngeh saat daya belinya sudah mulai sesak.

Pemerintah boleh saja bilang rasio utang Indonesia masih aman. Secara statistik, mungkin iya. Tapi yang kerap luput dari pembahasan adalah ruang fiskal yang kian sempit. Setiap rupiah yang dipakai bayar bunga adalah rupiah yang hilang dari anggaran pendidikan, kesehatan, atau perlindungan sosial.

Di titik ini, utang bukan lagi sekadar instrumen ekonomi. Ia adalah pilihan politik yang punya konsekuensi nyata.

Prabowo mewarisi APBN yang sudah berat. Namun di sisi lain, ia juga menambah beban baru atas nama visi besarnya. Itu sah-sah saja dalam demokrasi. Yang tidak sah adalah berpura-pura bahwa semua ini tak akan berdampak pada kantong rakyat.

Jika ekonomi tumbuh tinggi dan penerimaan melonjak, ceritanya bisa lain. Tapi jika pertumbuhan melambat, dunia gonjang-ganjing, dan target meleset? Jalan pintas fiskalnya selalu sama: pajak dimaksimalkan.

Utang Rp700 triliun di 2026 bukan cuma angka. Ia adalah janji yang harus ditebus di masa depan. Dan seperti biasa, yang menagih janji itu adalah negara, sementara yang membuka dompet tetap warga biasa.

Pertanyaannya sekarang bukan lagi "apakah" pajak akan meroket. Tapi "kapan" persisnya, dan seberapa terasa dampaknya. Mengapa bisa begitu? Ya, karena pemerintah tak memberi jaminan aset kepada kreditur. Mereka hanya bermodal kepercayaan. Dan kepercayaan itu dibacking oleh satu hal: rakyat yang rajin bayar pajak. Sederhananya, kitalah yang akan membayar utang negara ini.


Halaman:

Komentar