Dunia pun jadi bergejolak. AS kini bagai raksasa yang limbung, menabrak ke sana kemari. Upaya Trump memaksakan tatanan lewat proteksionisme agresif dan tekanan sepihak justru melahirkan kekacauan. Standar ganda? Bukan. Ini standar banyak, yang berubah-ubah sesuai kepentingan. Bukan rule of law yang mereka dengungkan, tapi rule based on power.
Indonesia di Tengah Gejolak
Dalam pewayangan, jatuhnya raksasa selalu bikin gempa. Debu beterbangan, membuat mata orang di sekitarnya perih. Hukum geopolitik bekerja kurang lebih seperti itu. Efek domino pasti terjadi.
Lalu, di mana posisi kita?
Jawabannya jelas. Indonesia tak boleh cuma bicara soal ketahanan. Kita harus merebut kembali kedaulatan yang lama "dicuri" oleh skema neoliberal, terutama di sektor pertahanan, pangan, dan energi. Ini sebuah keharusan, di tengah dunia multipolar yang penuh ketidakpastian ini.
Kedaulatan sejati hanya dimiliki negara yang mampu memenuhi kebutuhan dasarnya sendiri. Tapi, ini harus dilakukan dengan niat lurus bukan sekadar jadi alasan bagi industri ekstraktif untuk mengeksploitasi. Jangan sampai kita hanya mengganti majikan lama dengan penindas baru dari dalam.
Saat raksasa itu benar-benar jatuh nanti, Indonesia harus berdiri tegak. Bukan sebagai debu yang beterbangan, tapi sebagai poros yang tenang dan sadar akan arah sejarah.
Bagaimana caranya?
Pertama, kedaulatan rakyat harus dikembalikan. Status MPR yang direndahkan pasca amandemen UUD 1945 perlu dikoreksi. Politik praktis yang menguasai segalanya harus diakhiri.
Kedua, Pasal 33 UUD 1945 harus dikembalikan ke naskah aslinya. Ayat-ayat tambahan yang jadi pintu masuk neoliberalisme harus dihapus.
Ketiga, kita perlu kembali ke konstitusi warisan founding fathers, dengan teknik adendum. Pertahankan hal-hal baik hasil amandemen, sempurnakan yang kurang, tapi jaga keutuhan naskah asli 18 Agustus 1945.
Ini semua mendesak, apalagi di tengah krisis multidimensi, termasuk krisis pendidikan yang bisa berujung pada krisis peradaban.
Tatanan dunia baru nanti bukan lagi soal monopoli atau dominasi. Tapi lebih ke arah peradaban yang menjunjung perdamaian, stabilitas, keadilan, dan kesejahteraan.
Jika syarat-syarat itu bisa kita penuhi, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi mercusuar. Bukan adidaya yang menakutkan, tapi pemandu peradaban yang dihormati.
Potensinya ada. Nyata.
Di tengah kecemasan ini, mungkin kita bisa berharap: Selamat datang, Indonesia Emas 2045. Selamat datang, mercusuar dunia.
Artikel Terkait
Pramugari ATR 42-500 Akhirnya Teridentifikasi Setelah Ditemukan di Jurang Bulusaraung
Keluarga Bawa Pulang Jenazah Pramugari dari Tebing 500 Meter di Pangkep
35 Ribu Desa Terjepit di Tengah Hutan, Menteri Ungkap Dampak Mencekik
Menu Gratis Berujung Petaka: Ratusan Santri Grobogan Keracunan Usai Santap Makanan Terkontaminasi