Menu Gratis Berujung Petaka: Ratusan Santri Grobogan Keracunan Usai Santap Makanan Terkontaminasi

- Rabu, 21 Januari 2026 | 14:40 WIB
Menu Gratis Berujung Petaka: Ratusan Santri Grobogan Keracunan Usai Santap Makanan Terkontaminasi

Suasana di aula Pondok Pesantren Miftahul Huda siang itu kembali ramai. Tawa dan obrolan para santri memenuhi ruang, seolah ingin mengusir bayangan kelam yang baru saja berlalu. Ya, aktivitas pesantren di Grobogan, Jawa Tengah, itu perlahan kembali normal, tepat satu pekan setelah ratusan penghuninya diterpa musibah keracunan massal.

Namun begitu, ketenangan yang tercipta sekarang sungguh berbeda dengan kepanikan pada 9 Januari lalu. Kala itu, ratusan santri mendadak jatuh sakit usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) saat makan siang.

Menurut pengurus yayasan, Fuad Abdillah, gejala-gejala aneh mulai muncul sejak sore. "Para santri mengeluh pusing, mual, lalu disusul muntah dan diare," katanya. Banyak juga yang demam dan lemas tak bertenaga.

Fuad menambahkan, program MBG ini sebenarnya baru berjalan dua bulan di pesantren mereka. "Ini baru dua bulan kami menerima MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Kuwaron 1," ujarnya.

Awalnya, korban dirawat di dalam kompleks pesantren. Tapi kondisi sebagian santri makin memburuk. Hingga akhirnya, pada Sabtu sore, puluhan dari mereka terpaksa dilarikan ke berbagai fasilitas kesehatan.

Data dari ponpes mencatat ada 112 santri yang harus menjalani perawatan. Mereka tersebar di RSUD Ki Ageng Getas Pendowo Gubug, RSUD Dr. R. Soedjati Soemodiardjo Purwodadi, sejumlah puskesmas, dan sebagian lagi tetap di ponpes. Tak hanya santri, tujuh guru juga merasakan gejala serupa. Meski begitu, hanya dua orang guru yang akhirnya dirujuk ke rumah sakit.

Menu yang diduga menjadi biang keladi itu terdiri dari nasi kuning, telur dadar, abon, tempe orek, plus lalapan. Beberapa santri, seperti Inayah dan Fika, kondisinya cukup parah hingga harus ditangani di ruang gawat darurat.

Dari catatan Dinas Kesehatan Grobogan, korban keracunan di Kecamatan Gubug bahkan mencapai 803 orang. Hasil pemeriksaan Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah kemudian memastikan dugaan itu: makanan dari SPPG Kuwaron 1 terkontaminasi bakteri Escherichia coli.

Kepala Dinkes setempat, dr Djatmiko, memberi penjelasan lebih rinci. Bakteri itu ditemukan di beberapa menu, seperti nasi kuning, telur dadar, tempe, dan lalapan. Yang mengejutkan, sumber masalahnya ternyata juga berasal dari air bersih untuk memasak.

"Bukan air minum penerima manfaat, tapi air bersih untuk memasak yang tercemar," tegas Djatmiko. Air itu dibeli dari truk tangki, dan hasil uji lab menunjukkan kontaminasi yang sama.

Rasa Trauma yang Masih Membekas

Meski seluruh korban sudah dipulangkan, trauma jelas tak mudah hilang. Hasan, salah satu santri, mengaku kapok. "Saya kapok dan trauma. Harusnya dapur MBG itu steril," ucapnya dengan nada kesal.

Perasaan serupa diungkapkan Rahmat dan beberapa santri lainnya. Mereka masih diliputi kecemasan kalau-kalau diminta menyantap menu MBG lagi. Saat ini, kepercayaan mereka lebih besar pada makanan yang dimasak langsung oleh dapur pesantren.

Menanggapi hal itu, Kepala Ponpes Miftahul Huda, Luthfi Al Hakim, menegaskan bahwa pihaknya tidak menolak program pemerintah tersebut. Hanya saja, dia mendesak adanya evaluasi menyeluruh dari pengelola SPPG.

"Tujuan MBG itu baik, tapi kebersihan dan kualitas harus benar-benar dijaga. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang," kata Luthfi.

Pesantrennya sendiri sebenarnya sudah berpengalaman mengelola makanan untuk sekitar 1.500 santri secara swadaya. Tim dapur internal mereka dinilai terkontrol dengan baik. Bahkan, Luthfi sudah mengajukan permintaan khusus ke Badan Gizi Nasional.

Ia berharap pengelolaan dapur MBG bisa diserahkan langsung ke pihak pesantren. "Agar pengawasan lebih maksimal," tuturnya.

Operasional SPPG Dihentikan Sementara

Menanggapi insiden ini, Badan Gizi Nasional menyatakan bertanggung jawab penuh. Koordinator Regional SPPI Jawa Tengah, Reza Mahendra, menyampaikan permohonan maaf. Dia juga memastikan semua biaya pengobatan korban akan ditanggung, termasuk yang tidak dicover BPJS.

Langkah konkret pun segera diambil. BGN menghentikan sementara operasional SPPG Kuwaron 1 dan memasang garis polisi di lokasi. Hasil pemeriksaan awal menemukan sejumlah pelanggaran yang cukup serius.

Mulai dari Instalasi Pengolahan Air Limbah yang tidak memenuhi standar, sampai tata letak dapur yang berantakan. "Ini jadi pembelajaran penting. SPPG baru bisa beroperasi kembali setelah semua standar dipenuhi," tegas Reza.

Pemkab Grobogan juga ikut bersuara. Mereka tak akan ragu merekomendasikan penutupan SPPG yang terbukti melanggar. Evaluasi menyeluruh terhadap seluruh SPPG di wilayahnya akan segera digelar.

Sekda Grobogan, Anang Armunanto, juga mengajak masyarakat berperan. "Kami minta masyarakat ikut mengawasi. Jika ada temuan, segera laporkan," pintanya.

Kasus keracunan massal ini, sekali lagi, menyoroti titik lemah sebuah program yang sebenarnya mulia. Persoalan standar higienitas, pengawasan dapur, dan jaminan keamanan pangan bagi anak-anak, tampaknya masih perlu perhatian ekstra.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar