Eksodus Massal di Sihanoukville Usai Sang Raja Scam Dideportasi

- Rabu, 21 Januari 2026 | 08:54 WIB
Eksodus Massal di Sihanoukville Usai Sang Raja Scam Dideportasi

Suasana di Kasino Amber, Sihanoukville, pagi itu terlihat kacau. Ratusan orang bergegas keluar membawa barang-barang mereka. Koper digelandang, monitor komputer digotong, bahkan ada yang membawa hewan peliharaan. Kota pesisir yang terkenal sebagai sarang bisnis scam ilegal ini mendadak ramai oleh eksodus massal. Gelombang kepergian ini dipicu oleh satu peristiwa: penangkapan dan deportasi Chen Zi, salah satu bos scam paling dicari, ke China.

Seorang pekerja dari etnis China yang enggan disebut namanya berbagi kegelisahannya. "Kamboja sedang bergejolak," ujarnya kepada AFP, Senin lalu. "Sudah tidak aman untuk bekerja di sini."

Perasaan itu ternyata tak hanya dirasakannya. Di sejumlah kompleks bisnis scam lain di Kamboja, pemandangan serupa terjadi pekan lalu. Para pekerja yang biasanya terkurung di balik tembok kompleks tertutup, tiba-tiba berhamburan keluar. Beberapa bahkan sudah kabur beberapa hari sebelum penggerebekan resmi dilakukan otoritas.

Bisnis-bisnis gelap ini umumnya menyasar korban dari China. Modusnya beragam, mulai dari rayuan asmara palsu di media sosial hingga penipuan investasi mata uang kripto yang menjanjikan keuntungan fantastis.

Jurnalis AFP yang menyambangi lokasi sempat berbincang dengan beberapa pekerja yang masih tersisa. Seorang pekerja asal Bangladesh yang berdiri di depan Kasino Amber terlihat bimbang.

"Perusahaan kami di China bilang, kami harus pergi sekarang juga," katanya.

Namun begitu, ia sepertinya belum sepenuhnya yakin. "Tapi sepertinya kita aman-aman saja. Katanya sih ada sejumlah tawaran pekerjaan baru."

Gugurnya Sang Raja Scam

Di balik kekacauan ini ada nama Chen Zi. Dia adalah otak kejahatan yang membangun kerajaan ilegalnya di Sihanoukville melalui Prince Group. Grup ini diduga kuat terlibat dalam berbagai kejahatan siber dan mengoperasikan sejumlah tempat judi di beberapa hotel kota itu.

Atas permintaan pemerintah China, Chen akhirnya dideportasi. Proses pemulangannya ke China dilakukan pada Rabu, 7 Januari, dengan dukungan penuh otoritas Kamboja.

Kementerian Keamanan Publik China menyebut ekstradisi ini sebagai pencapaian besar kerja sama penegakan hukum antara kedua negara. Chen dikawal langsung dari Phnom Penh dan kini telah dikenai tindakan hukum wajib. Menurut pemberitaan CCTV, kasusnya masih diselidiki lebih lanjut karena ia tetap dianggap sebagai warga negara China.

Beijing bahkan berencana merilis daftar buronan lain yang merupakan anggota inti geng Chen Zi. Seruan untuk menyerahkan diri pun dikeluarkan.

Skala industri scam di Kamboja memang mencengangkan. Laporan Amnesty Internasional pada 2025 menyebutkan, dari 53 lokasi scam yang teridentifikasi di seluruh negeri, 22 di antaranya berkumpul di Sihanoukville. Sementara itu, badan PBB yang mengawasi narkotika dan kriminalitas mencatat kerugian akibat bisnis ini mencapai $37 juta pada 2023, dengan tenaga kerja yang terlibat diperkirakan mencapai 100.000 orang.

Komitmen atau Sandiwara?

Pemerintah Kamboja, di bawah Perdana Menteri Hun Manet, berkeras menunjukkan komitmennya.

"Kita akan menghabisi semua masalah yang terkait dengan kejahatan siber dan scam," tegas Hun Manet.

Klaimnya didukung angka: 118 lokasi digerebek dan 5.000 orang ditangkap dalam enam bulan terakhir. Pasca deportasi Chen Zi, pengawasan terhadap Prince Group dan anak perusahaannya diperketat. Aset Prince Bank dilikuidasi, penjualan properti grup itu dibekukan.

Tapi di sisi lain, ada sesuatu yang terasa janggal. Kecurigaan mengemuka karena ratusan pekerja itu sudah pergi sebelum penggerebekan besar-besaran terjadi. Seolah mereka mendapat peringatan lebih dulu.

"Sepertinya, operasi penggerebekan bocor," curiga seorang warga di lokasi.

Kecurigaan serupa diungkapkan Mark Taylor, mantan kepala lembaga non-pemerintah di Kamboja yang memantau perdagangan manusia.

"Ada suatu perubahan yang janggal di pusat-pusat scam ini sebelum penggerebekan," ujarnya. "Para pekerja dan manajernya rasanya sudah siap menghadapi aparat."

Menurut Taylor, ini mengindikasikan kolusi. Sebuah strategi ganda yang licik.

"Satu sisi meningkatkan upaya pemerintah memerangi kriminal, sementara di sisi lain menjaga industri scamming untuk bertahan dan beradaptasi," pungkasnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar