Kita memang tak makan dollar.
Betul. Tapi coba lihat, kalau nilai tukar rupiah sudah mulai ngamuk dan benar-benar lepas kendali, dampaknya bisa bikin negara limbung. Kita punya sejarah kelam soal ini. Indonesia pernah mengalaminya.
Dan waktu krisis moneter 1998 melanda, yang berujung pada Reformasi dan lengsernya Presiden Soeharto, Prabowo Subianto memilih pergi ke Yordania.
Nah, sekarang ini rupiah lagi melemah. Perlahan tapi pasti, harganya terus merosot dalam beberapa pekan terakhir. Situasinya bikin was-was.
Makanya, menurut saya, isu nepotisme di Bank Indonesia ini jangan dianggap sepele. Jangan main-main. Lebih baik fokus saja mengurus proyek-proyek besar yang sudah digaungkan, seperti MBG dan IKN. Atau urus saja semua pernyataan dan wacana yang selama ini sudah dilontarkan.
Saya yakin banget, di BI itu ada setidaknya seratus lebih staf-staf pilihan. Mereka elit, pengalamannya banyak, dan pendidikannya mentereng. Jauh lebih mumpuni kalau dibandingkan dengan ponakan Prabowo.
Lalu kok bisa ya, tiba-tiba ada orang yang catatan pengalamannya di bank sentral atau dunia moneter mungkin tak seberapa, langsung diangkat jadi Deputi Gubernur?
Gimana kalau diuji saja kemampuan mereka?
Suruh saja tes bareng. Saya garansi, hasilnya bakal bikin banyak orang kaget.
(Tere Liye)
Artikel Terkait
Harga Emas Perhiasan Hari Ini Stabil, Namun Ada Perbedaan Harga Antar Penyedia
Prakiraan Cuaca Makassar 26 April: Siang hingga Sore Hujan Ringan-Sedang, Dini Hari Gerimis
PSM Makassar Mulai Bangkit di Papan Bawah, Ujian Berat Lawan Bali United Jadi Penentu
PSG Hajar Angers 3-0, Gol Cepat dan Dominasi Penuh Kokohkan Puncak Klasemen Ligue 1