Dari Toyota Alphard terbaru senilai Rp1,2 miliar, Land Cruiser, hingga BMW dan minibus. Juga ada beberapa motor, termasuk Vespa lawas tahun 1974. Semuanya diklaim sebagai hasil sendiri. Belum lagi aset bergerak lain dan kas yang tercatat fantastis, Rp13 miliar lebih.
Jadi, ada semacam ironi yang menarik di sini. Di satu sisi, ada gambar pejabat yang rela berdesak-desakan di KRL. Di sisi lain, ada portofolio kekayaan yang mencakup mobil-mobil mewah. Kontras inilah yang memicu diskusi tak berujung: mana yang citra, mana yang esensi?
Soal latar belakang, Dahnil bukanlah pendatang baru di panggung politik dan publik. Lahir di Langkat, Sumatera Utara, 10 April 1982, perjalanan pendidikannya cukup panjang: dari akuntansi, magister kebijakan publik di UI, hingga doktor ekonomi di Undip. Karirnya berawal dari dunia kampus sebagai dosen, sebelum kemudian terjun ke organisasi massa.
Namanya mencuat saat memimpin Pemuda Muhammadiyah periode 2014-2018. Lalu, dunia politik menyeretnya menjadi juru bicara Prabowo Subianto, baik saat masih di kubu oposisi maupun setelah Pak Prabowo menjabat Menhan. Jejak bisnisnya juga ada, lewar jaringan kedai kopi Begawan Kupie.
Kini, setelah dilantik sebagai Wamenhaj pada September 2025, aksi-aksinya tetap jadi sorotan. Entah naik KRL atau lainnya. Yang jelas, setiap geraknya, seperti yang terlihat belakangan ini, selalu punya dua sisi: pujian dan kritik. Dan keduanya sama-sama lantang.
Artikel Terkait
Tim SAR Berjuang Melawan Medan Ekstrem di Pencarian Korban ATR 42-500
Dokter Tifa Tantang Jokowi Hadir di Sidang, Sebut Transkrip Nilai Abal-Abal
Setiap Lima Menit, Dua Nyawa Melayang Akibat TBC di Indonesia
Wali Kota Madiun Terjaring OTT KPK, Uang Ratusan Juta Disita