Di Houston, Texas, bulan Ramadan tahun ini punya nuansa tersendiri. Masjid Istiqlal Houston, yang dikenal sebagai pusat komunitas Muslim Indonesia, kembali ramai oleh semangat ibadah dan kebersamaan. Tapi jangan salah, tempat ini bukan cuma untuk warga Indonesia. Umat Islam dari berbagai latar belakang budaya dan negara turut meramaikan, menjadikannya ruang sosial yang hidup di tengah masyarakat multikultural Amerika.
Setiap malam, ruang utama masjid dipenuhi jamaah untuk salat tarawih berjamaah. Mereka dipimpin langsung oleh Imam Besarnya, Dr. Muthahhir Arif. Usai salat, biasanya ada momen yang ditunggu: nasihat spiritual dari sang Imam. Pesannya selalu mengena, tentang memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, dan memanfaatkan Ramadan sebaik-baiknya untuk mendekatkan diri pada Allah SWT.
Namun begitu, aktivitas di sini tak berhenti di tarawih. Ada juga kajian keislaman yang digelar rutin, ditujukan untuk memperdalam pemahaman agama bagi jamaah diaspora yang datang dari beragam profesi dan generasi. Yang paling bikin suasana akrab, tentu saja tradisi buka puasa bersama. Acara iftar ini selalu dinanti-nanti. Bukan sekadar soal menyantap hidangan setelah seharian menahan lapar dan dahaga, tapi lebih sebagai ruang perjumpaan. Di sinilah ikatan persaudaraan, atau ukhuwah Islamiyah, benar-benar terasa terutama bagi mereka yang jauh dari keluarga di tanah air.
Untuk mendukung kegiatan sekaligus kemandirian masjid, pengurusnya punya cara yang kreatif. Mereka menggandeng program kuliner komunitas bernama Istiqlal Cafe. Kafe ini berkolaborasi dengan dua usaha kuliner Indonesia di Houston, Nongki Coffee dan Cutpo Cafe, yang menyediakan hidangan ringan dan minuman khas. Istiqlal Cafe buka setiap Jumat dan Sabtu, mulai setengah jam sebelum azan magrib hingga pukul sepuluh malam. Jadi, jamaah bisa santai bersilaturahmi sambil menikmati suasana Ramadan. Yang menarik, sekitar 15 persen dari keuntungan kafe ini dialokasikan untuk operasional dan program dakwah masjid. Lumayan, kan?
Di sisi lain, aspek sosial juga sangat ditekankan. Pengurus masjid aktif mendorong jamaah untuk berpartisipasi dalam program zakat, infak, dan sedekah. Tujuannya jelas: membantu mereka yang membutuhkan, baik di sekitar Houston maupun di Indonesia. Ini jadi pengingat bahwa Ramadan bukan cuma urusan pribadi dengan Tuhan, tapi juga momentum untuk membuka mata dan hati terhadap sesama.
Intinya, di tengah kesibukan ibadah yang padat, Masjid Istiqlal Houston berhasil menjadi semacam oasis. Tempat di mana umat Islam dari berbagai etnis, profesi, dan negara bisa bertemu. Mereka datang bukan cuma untuk salat, tapi juga mencari kedamaian, keharmonisan, dan ikatan persaudaraan yang kuat sesuatu yang sangat berharga dalam kehidupan perantauan.
Soal pemimpinnya, Imam Muthahhir Arif punya pandangan yang jelas tentang peran masjid dan makna Ramadan.
“Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbaiki diri dan mempererat hubungan kita dengan Allah SWT serta membangun kedamaian di antara sesama,” ujarnya suatu kali pada jamaah.
Pria asal Sulawesi Selatan ini bukan pendatang baru di dunia dakwah Amerika. Sudah hampir sepuluh tahun ia berkarya di sini. Latar belakang pendidikannya kuat: dari Universitas Muslim Indonesia Makassar hingga LIPIA Jakarta. Sebelum memimpin Masjid Istiqlal Houston, ia pernah aktif berdakwah di Pesantren Nur Inka Nusantara Madani di Connecticut, juga di berbagai komunitas masjid di Las Vegas dan New York. Pengalaman panjang itulah yang membentuk visinya: masjid harus jadi pusat pembelajaran, dialog budaya, dan penguatan solidaritas.
Karena itu, berbagai program terus dikembangkan agar masjid benar-benar terasa seperti rumah kedua. Dan di bulan Ramadan ini, semangat kebersamaan yang tumbuh subur di Houston membuktikan satu hal: ukhuwah Islamiyah bisa tetap kuat, meski kita terpisah ribuan kilometer dari kampung halaman.
Kegiatan buka bersama, tarawih, dan kajian tiap malam itu seperti lem yang merekatkan hubungan antarjamaah. Melalui semua aktivitas itu, Masjid Istiqlal Houston mengajak umat Muslim di Amerika untuk menjalani Ramadan dengan kesadaran spiritual yang penuh, disertai kedamaian dan semangat berbagi yang tulus.
Dengan atmosfer yang hangat dan penuh makna, masjid ini tetap menjadi rumah spiritual andalan bagi diaspora Muslim Indonesia di Houston. Di antara gema azan, lantunan doa, dan canda tawa saat berbuka, komunitas Muslim di sini menemukan sesuatu yang berharga: bahwa Ramadan mampu menghadirkan rasa keluarga, bahkan di perantauan yang jauh sekali.
Penulis: Ismawan Amir
Koordinator Global Diaspora Indonesia
Artikel Terkait
Wali Kota Makassar Larang Pungutan Biaya Perpisahan Sekolah, Ancaman Sanksi untuk Kepsek
Geng Motor Bersenjata Samurai Teror Warung di Maros Dini Hari
Hari Kartini Diperingati, Semangat Emansipasi Perempuan Tetap Berkobar
Bone Berpeluang Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Catur Tingkat Sulsel