Harga emas sempat menggeliat naik pada Jumat lalu. Ini terjadi setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis ternyata jauh lebih lemah dari perkiraan. Bagi banyak pelaku pasar, data itu seperti angin segar yang menjaga harapan akan pemotongan suku bunga oleh The Fed di kemudian hari.
Tapi jangan salah. Secara keseluruhan, pekan itu justru jadi pekan yang kurang baik bagi si kuning. Logam mulia ini mencatat penurunan mingguan untuk pertama kalinya dalam lima pekan terakhir. Apa pasal? Penguatan dolar AS ternyata cukup kuat menahan laju kenaikan harga emas.
Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3), emas spot berhasil naik 1,77 persen ke level USD 5.171,06 per troy ons. Namun, jika dilihat dari pergerakan sepekan, harganya masih terpangkas 2,06 persen. Naik di akhir pekan, tapi turun secara mingguan.
Trader independen Tai Wong punya pandangan menarik soal data payroll AS yang mengejutkan itu. Menurutnya, laporan itu bukan cuma buruk, tapi juga memunculkan bayangan menakutkan.
“Laporan payrolls yang sangat lemah, dengan kehilangan pekerjaan besar di sektor swasta serta kenaikan upah, memunculkan bisikan stagflasi,” ujarnya.
“Kita lihat apakah ini cukup untuk membantu emas pulih dari pekan yang mengecewakan,” tambah Wong, seperti dikutip Reuters.
Data resminya memang di luar dugaan. Nonfarm payrolls (NFP) justru turun 92.000 pekerjaan bulan lalu. Padahal, para ekonom sebelumnya memperkirakan ada penambahan sekitar 59.000 lapangan kerja. Sementara itu, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,4 persen.
Artikel Terkait
Menkeu Tegaskan THR Karyawan Swasta Tetap Kena Pajak, Sarankan Protes ke Perusahaan
Harga Emas Antam Naik Rp35.000 per Gram, Tembus Rp3 Jutaan
IHSG Anjlok 8%, Investor Asing Lepas Saham Blue Chip Senilai Rp2,48 Triliun
IFSH Cetak Kenaikan 81,56% di Tengah Pelemahan IHSG 7,89%