Emas Rebound di Akhir Pekan, Tapi Catat Penurunan Mingguan Pertama dalam Lima Pekan

- Sabtu, 07 Maret 2026 | 11:40 WIB
Emas Rebound di Akhir Pekan, Tapi Catat Penurunan Mingguan Pertama dalam Lima Pekan

Harga emas sempat menggeliat naik pada Jumat lalu. Ini terjadi setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis ternyata jauh lebih lemah dari perkiraan. Bagi banyak pelaku pasar, data itu seperti angin segar yang menjaga harapan akan pemotongan suku bunga oleh The Fed di kemudian hari.

Tapi jangan salah. Secara keseluruhan, pekan itu justru jadi pekan yang kurang baik bagi si kuning. Logam mulia ini mencatat penurunan mingguan untuk pertama kalinya dalam lima pekan terakhir. Apa pasal? Penguatan dolar AS ternyata cukup kuat menahan laju kenaikan harga emas.

Pada penutupan perdagangan Jumat (6/3), emas spot berhasil naik 1,77 persen ke level USD 5.171,06 per troy ons. Namun, jika dilihat dari pergerakan sepekan, harganya masih terpangkas 2,06 persen. Naik di akhir pekan, tapi turun secara mingguan.

Trader independen Tai Wong punya pandangan menarik soal data payroll AS yang mengejutkan itu. Menurutnya, laporan itu bukan cuma buruk, tapi juga memunculkan bayangan menakutkan.

“Laporan payrolls yang sangat lemah, dengan kehilangan pekerjaan besar di sektor swasta serta kenaikan upah, memunculkan bisikan stagflasi,” ujarnya.

“Kita lihat apakah ini cukup untuk membantu emas pulih dari pekan yang mengecewakan,” tambah Wong, seperti dikutip Reuters.

Data resminya memang di luar dugaan. Nonfarm payrolls (NFP) justru turun 92.000 pekerjaan bulan lalu. Padahal, para ekonom sebelumnya memperkirakan ada penambahan sekitar 59.000 lapangan kerja. Sementara itu, tingkat pengangguran AS naik menjadi 4,4 persen.

Di sisi lain, situasi geopolitik juga terus memanas. Israel melancarkan serangan ke Beirut, tak lama setelah memerintahkan evakuasi besar-besaran di seluruh wilayah pinggiran selatan ibu kota Lebanon itu. Langkah ini jelas menandai perluasan konflik yang signifikan, memperpanjang daftar ketegangan di Timur Tengah.

Nah, konflik yang kian panas itulah yang justru mendorong indeks dolar AS mencetak kenaikan mingguan terkuat dalam setahun lebih. Dalam situasi penuh ketidakpastian, dolar masih dianggap sebagai safe haven yang paling likuid. Ironisnya, penguatan dolar inilah yang justru membebani emas. Logam yang dihargakan dalam dolar itu otomatis menjadi lebih mahal bagi pembeli dari luar negeri, sehingga permintaannya tertekan.

“Ada penjualan otomatis dari pelaki yang menggunakan algoritma perdagangan ketika dolar menguat,” jelas Hugo Pascal, seorang trader logam mulia di InProved.

“Itu menjadi bagian dari tekanan terhadap kinerja logam mulia pekan ini,” katanya.

Mata kini tertuju pada pertemuan pejabat Federal Reserve pada 18 Maret mendatang. Mayoritas analis memprediksi The Fed akan menahan suku bunga tetap di level saat ini. Sementara itu, pemangkasan suku bunga pertama kali secara luas diperkirakan baru terjadi pada bulan Juli. Emas memang dikenal sebagai lindung nilai inflasi jangka panjang. Tapi logam ini juga paling bersinar ketika suku bunga rendah, karena ia sendiri tidak memberikan imbal hasil. Sepanjang tahun ini, kenaikan harganya sudah lebih dari 18 persen, lho.

Kembali ke geopolitik, konflik dengan Iran yang memanas telah mendorong harga minyak mentah meroket. Minyak bahkan menuju kenaikan mingguan terbesar sejak awal perang Rusia-Ukrana di 2022. Lonjakan harga energi seperti ini, tentu saja, kembali menyalakan alarm inflasi.

Bagaimana dengan logam mulia lainnya? Perak spot naik 2,6 persen menjadi USD 84,30 per ons. Platinum juga naik tipis 0,5 persen ke USD 2.131,50. Sedangkan paladium justru turun 1,1 persen ke level USD 1.646,84. Satu benang merah: semua logam ini, sama seperti emas, mencatatkan penurunan dalam catatan mingguan mereka.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar