Menjaga Martabat Indonesia: Kebangsaan Sebagai Panggilan Nurani di Tengah Zaman yang Berubah

- Minggu, 18 Januari 2026 | 06:00 WIB
Menjaga Martabat Indonesia: Kebangsaan Sebagai Panggilan Nurani di Tengah Zaman yang Berubah

Peringatan itu masih relevan sampai sekarang. Kebangsaan akan kehilangan makna kalau hukum cuma jadi alat penguasa, bukan alat keadilan.

Meski begitu, pesimisme bukanlah pilihan. Sejarah kita membuktikan, nilai-nilai luhur itu tak pernah benar-benar padam. Lihat saja solidaritas saat bencana melanda, atau kepedulian sosial di kala krisis. Kemampuan untuk bangkit dari keterpurukan itu bukti nyata bahwa jiwa kebangsaan kita masih hidup dan bernafas.

Di titik ini, peran generasi muda jadi krusial. Mereka hidup di arus global yang deras, di mana identitas bisa jadi cair dan kabur. Tantangan terberat mereka mungkin bukan kekurangan informasi, tapi justru kemampuan untuk memilah nilai. Kebangsaan harus dimaknai sebagai kesadaran kritis. Cinta tanah air bukan berarti menutup mata pada kekurangan, tapi justru berani mengkritik untuk perbaikan.

Di sinilah pendidikan memegang peran sentral. Ki Hadjar Dewantara bilang:

Pendidikan kebangsaan jangan cuma hafalan simbol dan teks. Ia harus menumbuhkan kesadaran etis, empati, dan tanggung jawab moral. Kebangsaan yang kuat hanya bisa lahir dari manusia yang merdeka pikirannya dan bermartabat sikapnya.

Tan Malaka juga menekankan hal serupa. Baginya, pendidikan harus

Intinya, kebangsaan harus membentuk manusia Indonesia yang utuh pintar, berkarakter kuat, dan punya hati nurani yang halus.

Pada akhirnya, menjadi bagian dari Indonesia adalah pilihan moral yang harus diperbarui setiap hari. Ia menuntut kita berani mendahulukan kepentingan bersama di atas ego. Menuntut kesediaan untuk berdialog, bukan saling menyalahkan. Fondasinya harus kejujuran, keadilan, dan empati.

Soekarno pernah mengingatkan:

Menghormati pahlawan bukan cuma dengan upacara dan slogan kosong. Tapi dengan menghidupkan nilai perjuangan mereka dalam tindakan nyata sehari-hari, dalam cara kita berbangsa dan bernegara.

Indonesia itu bangsa besar. Bukan cuma karena luas wilayah atau jumlah penduduknya. Tapi terutama karena kekayaan nilai luhur yang diwariskan oleh sejarahnya yang panjang. Tugas kita sekarang bukan menciptakan nilai baru dari nol. Tapi menjaga, menghidupkan, dan mewujudkan nilai yang sudah ada itu. Selama kebangsaan kita dimaknai sebagai panggilan nurani untuk memanusiakan manusia dan mempersatukan perbedaan, selama itu pula Indonesia akan tetap berdiri sebagai bangsa yang bermartabat. Karena Indonesia punya kekuatan nilai, martabat, dan luhur itulah panggilan zaman yang harus kita jawab.

Tabik.


Halaman:

Komentar