"Agak miris sebenarnya," tambah Sutoyo menegaskan.
Dia melihat klarifikasi yang tanpa nama dan tanggal itu justru terkesan menjual ayat-ayat Al-Qur'an. Hanya untuk pembenaran belaka, untuk membela kekeliruan yang dia lakukan sendiri.
Pertanyaannya sekarang: apakah yang dilakukan Eggi ini identik dengan peringatan Allah dalam ayat tadi? Atau mirip dengan cara-cara Snouck Hurgronje yang penuh kamuflase? Hanya Eggi Sudjana yang tahu isi hati dan niatnya yang sebenarnya. Kita di luar hanya bisa melihat dari yang tampak.
"Secara lahiriah, Eggi Sudjana seperti sedang terserang penyakit. Takut mati dan cinta dunia yang berlebihan," tegas Sutoyo.
Dalam Islam, kondisi seperti itu dikenal sebagai Al-Wahn.
Sebagai sesama muslim, Sutoyo merasa perlu mengingatkan. "Sebaiknya Eggi Sudjana berhati-hati. Bahkan lebih baik berhenti menggunakan ayat Al-Qur'an kalau ilmu untuk memaknainya masih terbatas. Apalagi jika cuma sekadar tahu arti harfiahnya, tanpa paham konteks turunnya ayat (ashabul nuzul)," ungkapnya.
Memang, kalau kita lihat belantara politik Indonesia sekarang, penyakit semacam ini sepertinya jadi wabah. Banyak pejabat negara yang seolah terserang 'demam' uang dari kaum kapitalis hitam. Situasi ini membahayakan keutuhan NKRI, karena penyelenggara negara bisa dibeli dan lupa pada amanahnya. Mereka lupa tugas utama mereka: menjaga kedaulatan negara.
Artikel Terkait
Bripda Rio Diberhentikan Tak Hormat Usai Ditemukan Jadi Tentara Bayaran Rusia
Klaim Bahagia Prabowo Beradu dengan Data 100 Juta Penduduk Miskin
Gaji Fantastis Sabrang Noe Letto di Dewan Pertahanan Nasional Terkuak
Bukti-Bukti Kepalsuan Ijazah Jokowi Kian Menguat, Restorative Justice Jadi Tak Bermakna