Rapat di Kantor Kemendagri, Kamis lalu, berlangsung hampir empat jam. Intinya satu: pemulihan pascabencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar harus digenjot. Muhammad Tito Karnavian, sang Mendagri yang juga Ketua Satgas Rehabilitasi-Rekonstruksi, tak mau berlama-lama. Ia langsung meminta seluruh jajaran kabinet untuk turun tangan.
“Ini tolong diperhatikan,” pintanya. Wilayah-wilayah yang belum pulih benar, terutama dari sisi pemerintahan, infrastruktur, hingga ekonomi sosial, harus jadi prioritas.
“Menteri Perdagangan, Pertanian, Perindustrian, UMKM, Ekonomi Kreatif... tolonglah dibantu. Supaya mereka bisa hidup kembali, pasarnya, warung-warungnya. Butuh kerja keras,” tegas Tito di hadapan para menteri.
Menurutnya, semangat gotong royong adalah kunci. Ia optimis, kolaborasi antara pusat, daerah, dan organisasi nonpemerintah bakal mempercepat semuanya. Tito bahkan secara khusus menyampaikan apresiasi pada lembaga-lembaga yang sudah turun langsung, jauh ke pelosok.
“Banyak saya temui di gunung-gunung, di Bener Meriah, Aceh Tamiang. Mereka bekerja. Tak banyak cari pemberitaan, tapi hasilnya sangat dirasakan masyarakat,” ujarnya, menyebut nama-nama seperti Dompet Dhuafa, PMI, hingga Tzu Chi.
Targetnya ambisius. Untuk Sumatera Barat dan Sumatera Utara, diharapkan pemulihan bisa tuntas sebelum Ramadan nanti. Caranya? Dengan mempercepat pembersihan area terdampak dan mengurangi jumlah pengungsi. Bantuan untuk rumah rusak ringan dan sedang akan diprioritaskan agar warga cepat pulang.
Bagi yang rumahnya rusak berat, hunian sementara disiapkan. Ada juga yang sudah terima Dana Tunggu Hunian, sehingga bisa ngontrak atau tinggal dengan saudara dulu.
“Harapan saya, Menteri Sosial bisa menambahkan anggaran, baik dari pos bencana maupun non-bencana. Untuk PKH, peralatan rumah tangga. Kalau itu dibantu, akan cepat selesai,” kata Tito.
Namun begitu, kondisi Aceh dinilai lebih kompleks. Penanganannya butuh upaya ekstra karena banyak permukiman masih tertimbun lumpur. Fokus utama di sana adalah pembersihan material itu dan normalisasi muara sungai.
“Kunci utamanya pembersihan lumpur. Kalau sungai sudah dikerok, penanganan selanjutnya akan jauh lebih mudah,” jelasnya. Tito bahkan yakin, dengan tambahan pasukan dari TNI-Polri dan sekolah kedinasan, pekerjaan berat itu bisa rampung dalam dua minggu.
Rapat koordinasi itu sendiri dihadiri nyaris semua pejabat terkait. Tampak hadir sejumlah menko Pratikno, AHY, Djamari Chaniago, hingga Muhaimin Iskandar. Para menteri teknis seperti Menkes Budi Gunadi dan Mensos Saifullah Yusuf juga datang. Tak ketinggalan, tiga gubernur dari wilayah terdampak: Muzakir Manaf, Bobby Nasution, dan Mahyeldi Ansharullah. Semua duduk bersama, membahas langkah konkret ke depan.
Artikel Terkait
Jakarta LavAni dan Bhayangkara Presisi Pastikan Duel di Final Proliga 2026
Prabowo Serukan Persatuan di Hadapan Ketua DPRD Se-Indonesia untuk Wujudkan Indonesia Emas 2045
Borneo FC Kalahkan PSM Makassar 2-1 di Stadion Andi Mattalatta
Presiden Prabowo Sidak Gudang Bulog Magelang, Pastikan Stok Beras Aman