Isra Mikraj di Era Digital: Ketika Logika Tak Mampu Menjawab

- Jumat, 16 Januari 2026 | 14:25 WIB
Isra Mikraj di Era Digital: Ketika Logika Tak Mampu Menjawab

Karena itulah, kita perlu mengasah sisi spiritual. Bukan untuk lari dari realitas, tapi justru agar bisa memaknai hidup dengan lebih utuh. Menyadari bahwa kita ini makhluk terbatas. Dengan kesadaran itu, kita bisa mendekati peristiwa seperti Isra Mikraj dengan cara yang benar: memahaminya secara kognitif, lalu meyakininya dengan sepenuh hati.

Ketika logika dan spiritualitas berjalan beriringan, baru kita akan paham. Ada kekuatan yang jauh lebih besar dari diri kita, lebih perkasa dari apa pun di alam semesta ini. Kekuatan yang mengatur segala sesuatu, termasuk hal-hal yang tak terjangkau akal.

Dialah Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dari-Nya-lah datangnya mukjizat, termasuk peristiwa Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw.

Allah sendiri yang menegaskannya dalam firman-Nya:

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al Isra’, 17:1)

Secara bahasa, Isra artinya perjalanan di malam hari. Mi’raj berarti naik. Kisahnya singkatnya, Nabi Muhammad diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Yerusalem jaraknya sekitar 1.462 kilometer. Lalu dari sana, beliau dinaikkan menembus lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha, sebuah tempat yang tak terbayangkan oleh indra manusia.

Semua itu terjadi hanya dalam satu malam. Mustahil? Tentu, jika mengandalkan kemampuan manusia. Tapi tidak, jika itu adalah kehendak dan kekuatan Allah SWT.

Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar pernah memberi pencerahan.

“Isra Mikraj bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang mengajarkan manusia untuk terus berkembang dalam ilmu dan teknologi”.

Maksudnya jelas. Ilmu dan teknologi kita saat ini belum cukup untuk menganalisis peristiwa ini. Justru Isra Mikraj-lah yang mendorong kita untuk terus belajar, meneliti, dan mengasah akal. Inilah tantangan sebenarnya: menjalankan logika dengan landasan spiritual yang kokoh, dan sebaliknya.

Dengan cara itu, pemahaman kita jadi komprehensif. Kita bisa lebih mengerti diri sendiri, tujuan hidup, dan meyakini adanya Kekuatan Maha Besar di balik semesta. Sekaligus mengakui, bahwa yang mustahil di mata manusia, sangatlah mungkin atas kehendak-Nya.

Jadi, masihkah kita meragukan Isra Mikraj hanya dengan bermodal logika yang terbatas dan spiritualitas yang tandus? Pertanyaan itu, saya kembalikan kepada kita semua, manusia yang mengaku modern.

"Kolumnis, Bukan Santri Pondok Pesantren.


Halaman:

Komentar