Ketika Bumi Menolak, Langit Menyambut: Kisah Perjalanan Nabi yang Tak Mudah Diterima

- Jumat, 16 Januari 2026 | 17:00 WIB
Ketika Bumi Menolak, Langit Menyambut: Kisah Perjalanan Nabi yang Tak Mudah Diterima

Kamu jangan jadi Nabi. Berat. Biar Rasulullah ﷺ saja

Bayangkan, sejak lahir hingga usia empat puluh tahun, beliau dicintai semua orang. Dikagumi, dihormati, setiap ucapannya dipercaya tanpa ragu. Reputasinya tak ternoda.

Namun begitu, semua itu berubah dalam sekejap. Hanya gara-gara mengaku sebagai nabi, beliau langsung dimusuhi. Dicaci maki, diteriaki gila, bahkan dianggap tak lebih dari seorang dukun. Begitulah kenyataan pahit yang harus dihadapi.

Awalnya, ada upaya negosiasi. Tawaran menggiurkan diajukan: jabatan tertinggi di Makkah, harta berlimpah dari iuran hingga menjadi yang terkaya, bahkan kebebasan memilih wanita mana pun yang disukai. Semua itu dengan satu syarat: berhenti mengaku sebagai nabi.

Usaha itu gagal total. Negosiasi buntu, ancaman pembunuhan pun mengemuka.

Upaya pembunuhan itu sendiri akhirnya gagal. Tapi tekanan tak berhenti di situ. Para pendukung dan kerabat beliau diisolasi secara total. Mereka dikucilkan, tak boleh berdagang dengan siapapun dari semua qabilah Arab. Keadaan pun jadi kritis. Sungguh memilukan, anak-anak meninggal kelaparan, sementara orang dewasa bertahan dengan memakan dedaunan. Pemboikotan itu berlangsung tiga tahun lamanya, dari tahun ketujuh hingga tahun kesepuluh kenabian.

Di sisi lain, beliau masih berusaha. Hijrah ke Thaif dengan harapan baru, menawarkan diri agar diakui sebagai nabi. Tapi yang didapat malah di luar dugaan. Bukan sambutan, melainkan teriakan hinaan dan lemparan batu. Kaki beliau ﷺ berdarah-darah. Zaid bin Haritsah yang setia menemani dan melindungi juga tak luput, kepalanya terluka.

Dalam kondisi luka dan penuh darah, mereka berdua akhirnya berteduh di sebuah kebun anggur. Pemilik kebun, yang melihatnya, tergerak oleh rasa iba. Ia menyuruh "ghulam"-nya, seorang pemuda Nasrani, untuk menghampiri mereka dengan setalam anggur.

"Kamu berasal dari mana? Agamamu apa?" tanya Nabi ﷺ kepada ghulam itu.

"Dari Ninawa," jawabnya.

"Oh, itu desa yang ditempati seorang sholih bernama Yunus ibn Mata."

Ghulam itu heran: "Engkau tahu Yunus bin Mata?"

"Iya, dia adalah Nabi, sama seperti aku juga nabi."


Halaman:

Komentar