Jakarta. Seorang pejabat tinggi Rusia baru-baru ini mengeluarkan peringatan yang cukup mengerikan. Menurutnya, jika Donald Trump tetap berkuasa, dunia bakal menuju Perang Dunia III. Klaim ini muncul di tengah situasi global yang memang sedang memanas.
Bayangkan saja, tahun 2026 baru berjalan tiga bulan, tapi dunia sudah gempar dengan dua peristiwa besar. Amerika Serikat disebut menculik Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Tak hanya itu, serangan rudal AS dan Israel ke Iran dikonfirmasi menewaskan pemimpin tertinggi mereka. Trump sendiri dikabarkan menyatakan bahwa AS dan Israel sanggup mempertahankan intensitas serangan ini selama beberapa minggu ke depan. Tujuannya jelas: melumpuhkan kemampuan rudal dan angkatan laut Iran.
Di sisi lain, ada tujuan strategis lain yang ingin dicapai. Mereka berusaha menghentikan program nuklir Tehran, sekaligus memutus pasokan senjata Iran ke kelompok-kelompok yang dituding sebagai teroris.
Peringatan keras itu datang dari Dmitry Medvedev, sekutu dekat Vladimir Putin. Medvedev, yang pernah menjabat presiden Rusia, menyebut langkah Trump saat ini sebagai "jalur gila". Jalur yang ujung-ujungnya hanya satu: perang global.
"Secara formal, perang dunia ketiga belum dimulai," ujarnya kepada kantor berita TASS.
"Tapi jika Trump melanjutkan tindakan gilanya untuk melakukan perubahan rezim secara kriminal, itu pasti akan dimulai. Dan peristiwa apa pun bisa menjadi pemicunya. Apa pun," tegas Medvedev.
Bahasa yang digunakannya pun terbilang kasar. Dia menyebut AS dan sekutunya yang terlibat perang dengan Iran sebagai 'babi' yang enggan meninggalkan 'palung makannya'. Dia merasa Trump telah melakukan blunder besar.
"Dengan keputusannya, dia telah menempatkan semua warga Amerika pada risiko potensial," katanya.
Medvedev lalu mengingatkan satu hal yang mungkin dianggap krusial. Almarhum Ayatollah, kata dia, adalah figur spiritual bagi hampir 300 juta penganut Syiah. Kini, dia juga telah menjadi martir. "Anda bisa bayangkan akibatnya. Dan sekarang, tidak diragukan lagi Iran akan mengejar pembuatan senjata nuklir dengan energi berlipat ganda," tambahnya.
Hubungan Rusia dan Iran sendiri memang erat. Tehran disebut memasok drone untuk operasi militer Rusia di Ukraina – sebuah konflik yang sudah berlarut-larut selama empat tahun, jauh dari rencana awal yang hanya tiga hari.
Merespon serangan ke Iran, Kremlin menyebutnya sebagai aksi agresi bersenjata yang terencana dan tanpa provokasi terhadap negara berdaulat. Mereka juga memperingatkan risiko bencana: mulai dari kemanusiaan, ekonomi, hingga yang bersifat radiologis. Intinya, Timur Tengah bisa terjerumus ke dalam eskalasi yang sama sekali tak terkendali.
Rusia sepertinya paham betul soal perang. Mereka menunjukkan bahwa memulai perang itu mudah, tapi mengakhirinya? Itu soal lain. Syarat-syaratnya pun tak pernah pasti.
Mengingat Trump disebut telah 'menyingkirkan' dua kepala negara dalam waktu singkat, Medvedev juga ditanya kemungkinan AS mencoba hal serupa pada Putin.
Jawabannya singkat dan sinis. "Tidak ada obat untuk tindakan orang idiot dan omong kosong," ucapnya.
Lalu dia menutup dengan ancaman yang gamblang. "Hanya ada satu jaminan: AS takut pada Rusia dan tahu harga konflik nuklir. Jika itu terjadi, Hiroshima dan Nagasaki akan tampak seperti permainan anak-anak di taman bermain."
Peringatan yang disampaikan bukan main-main. Nuansa perang dingin seakan kembali menghantui, hanya kali ini dengan kata-kata yang lebih panas dan langsung.
Artikel Terkait
Karyawan Minimarket Bobol Brankas Rp52 Juta, Habiskan untuk Judi Online dalam 3 Jam
Bareskrim Gagalkan Penyelundupan Puluhan Ton Bawang di Pontianak
Ratusan Kapal Nelayan Cirebon Menganggur Akut Akibat Kelangkaan Solar
Petugas Jakarta Barat Dapat Apresiasi Rp 25 Ribu per Kg dan Jalan ke Ancol Atas Penangkapan Ikan Sapu-Sapu