Logis 08: Kritik Dino Patti Djalal Soal Frekuensi Kunjungan Luar Negeri Prabowo Abaikan Capaian Diplomasi

- Selasa, 02 Juni 2026 | 14:30 WIB
Logis 08: Kritik Dino Patti Djalal Soal Frekuensi Kunjungan Luar Negeri Prabowo Abaikan Capaian Diplomasi

Ketua Umum Logis 08, Anshar Ilo, melontarkan kritik tajam terhadap pernyataan mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal yang mempersoalkan tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Menurut Anshar, sorotan semacam itu tidak mencerminkan gambaran utuh dari hasil diplomasi yang telah diraih kepala negara.

Anshar menegaskan bahwa publik semestinya mengalihkan perhatian pada capaian konkret yang lahir dari aktivitas diplomasi Presiden, bukan sekadar menghitung jumlah perjalanan yang dilakukan. Ia menilai pendekatan yang hanya berfokus pada kuantitas kunjungan dapat menghasilkan penilaian yang tidak objektif.

"Dino Patti Djalal jangan asal kritik. Yang harus dilihat adalah hasil dan manfaat yang diperoleh bangsa Indonesia. Dalam sekitar satu setengah tahun terakhir, diplomasi Presiden Prabowo berhasil membuka peluang investasi hingga Rp 2.430 triliun untuk Indonesia," ujar Anshar Ilo, Selasa (2/6/2026).

Menurutnya, rangkaian kunjungan kenegaraan dan pertemuan bilateral yang dilakukan Presiden Prabowo telah menghasilkan sejumlah capaian strategis bagi Indonesia di panggung global. Beberapa di antaranya adalah bergabungnya Indonesia dalam kelompok BRICS, tercapainya kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa, serta peningkatan kerja sama pertahanan dengan berbagai negara sahabat.

Di sisi lain, Anshar menyebut bahwa posisi Indonesia dalam berbagai forum internasional juga semakin menguat. Pemerintahan Presiden Prabowo, lanjutnya, secara aktif memperjuangkan isu kemanusiaan Palestina dan memberikan perlindungan terhadap warga negara Indonesia yang berada di luar negeri.

"Kalau hanya melihat frekuensi perjalanan tanpa melihat hasilnya, tentu penilaiannya menjadi tidak objektif. Diplomasi Presiden Prabowo telah meningkatkan kepercayaan dunia terhadap Indonesia," kata mantan Waketum DPP KNPI itu.

Anshar juga menyoroti fakta bahwa sejumlah perjalanan luar negeri Presiden tidak sepenuhnya dibiayai oleh negara. Menurutnya, hal ini menunjukkan komitmen Presiden untuk memastikan agenda diplomasi berjalan efektif tanpa membebani keuangan negara secara berlebihan.

"Yang paling penting adalah manfaat yang kembali kepada rakyat Indonesia. Investasi masuk, pasar ekspor terbuka, kerja sama strategis meningkat, dan posisi Indonesia makin diperhitungkan di dunia internasional," ujar Anshar Ilo yang juga mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) ini.

Oleh karena itu, Logis 08 meminta seluruh pihak untuk memberikan penilaian secara proporsional terhadap kebijakan luar negeri Presiden Prabowo. Anshar menekankan bahwa kritik diperbolehkan, namun harus didasarkan pada data dan fakta.

"Kritik tentu boleh, tetapi harus berdasarkan data dan fakta. Jangan sampai kritik yang disampaikan justru mengabaikan berbagai capaian nyata yang telah dirasakan manfaatnya oleh bangsa dan negara," pungkas Anshar Ilo.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar