"Tergantung daripada FK dan (RSUP) Mohammad Hoesin melaksanakan sekitar 19 item-item perbaikan yang harus mereka lakukan. Kalau cepat ya cepat, tapi kalau lambat ya mohon maaf lebih lama juga," tegas Azhar.
Kesembilan belas item perbaikan itu adalah langkah konkret untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang. Kontrol terhadap grup WhatsApp, penataan aturan jaga, hingga transparansi pengumpulan dana masuk dalam daftar panjang itu.
Azhar memberi contoh. "Ada macam-macam, misalnya satu istilahnya penertiban WA. Supaya WA-nya itu dikontrol, di WA itu harus ada perwakilan daripada rumah sakit, ada perwakilan daripada FK. Kalau misalnya ternyata enggak ada berarti itu WA-nya gelap. Nah berarti itu di situ jadi sarana, dalam tanda kutip, untuk memberikan instruksi atau bullying atau selanjutnya," jelasnya.
Selain itu, ada poin lain yang tak kalah penting. "Terus kedua harus ada istilahnya aturan jaga yang lebih jelas, lebih ketat, sehingga mereka bisa bekerja untuk meningkatkan patient safety. Terus yang berikutnya istilahnya tidak ada lagi rekening-rekening ataupun pengumpulan-pengumpulan uang tanpa diketahui atau tidak secara resmi," pungkasnya.
Jadi, nasib program spesialis mata di RSUP Hoesin kini sepenuhnya ada di tangan kedua institusi tersebut. Mereka harus bergerak cepat, membersihkan lingkungan pendidikan dari praktik-praktik busuk yang sudah mengakar.
Artikel Terkait
Kemenangan Publik: Ijazah Jokowi Tak Lagi Jadi Dokumen Rahasia
Menteri Kesehatan: Stigma, Tantangan Terbesar Pengentasan Kusta di Indonesia
Pemulihan Pascabanjir Sumut Butuh Rp69,47 Triliun, Empat Kali Lipat Kerugian
Banjir Rendam Rel, Delapan Kereta Jakarta-Semarang Terhambat