Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, menegaskan bahwa kemarahan mereka ke Presiden Prabowo bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Menurutnya, ini adalah puncak gunung es. Kritik terhadap berbagai kebijakan publik dari rezim Prabowo-Gibran sudah mereka lontarkan sejak setahun yang lalu.
Masalahnya, kata Tiyo, semua kritik itu seolah tidak pernah sampai. Atau kalau pun sampai, responnya justru membuat gerah.
Ia menyayangkan, alih-alih ditanggapi dengan serius, yang muncul justru respons yang memaki dan berusaha membungkam. Akumulasi dari semua itu kemuan, kejenuhan, keprihatinan akhirnya meledak juga.
Ledakan itu dipicu oleh ironi yang menyakitkan. Tiyo menggambarkan sebuah kontras yang tajam.
Sebenarnya, kritik terhadap anggaran pendidikan yang dialihkan untuk MBG ini sudah dimulai BEM UGM sejak pertengahan 2025. Mereka bahkan pernah menggelar aksi simbolis dengan mengarak sapi yang kepalanya ditempeli gambar Presiden.
Artikel Terkait
Wapres Keenam RI Try Sutrisno Wafat, Pramono Anung Kenang Sosok Teguh Penjaga Pancasila
Minibus Tercebur ke Irigasi di Lampung Timur, 4 Korban Dilarikan ke RS
Jadwal Imsak dan Buka Puasa Makassar 2-3 Maret 2026
Prakiraan Hujan Ringan Dominan di Sulsel Besok, Waspada Angin Kencang