Kasus perundungan yang menimpa seorang mahasiswi Universitas Sriwijaya (Unsri) di Palembang benar-benar bikin geram. Saat menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di RSUP Hoesin, ia tak cuma dapat perlakuan tak menyenangkan dari seniornya. Lebih parah lagi, ada permintaan uang yang jumlahnya fantastis: Rp 15 juta per bulan.
Dirjen Kesehatan Lanjutan, Azhar Jaya, mengonfirmasi hal itu di Kantor Kemenkes, Jakarta, Kamis lalu.
"Besarannya rata-rata kalau enggak salah Rp 15 juta per bulan," ujarnya.
Uang sebesar itu, kata Azhar, dikumpulkan lewat seorang bendahara. Sistemnya terorganisir. "Kemudian kalau misalnya ada senior dan sebagainya, itu mereka ngambilnya dari situ," paparnya.
Lalu untuk apa saja uang itu dipakai? Rupanya banyak keperluan. "Banyak, banyak macam-macam. Ada yang ya buat bayarin makan-makan atau buat keperluan seniornya, kayak gitu-gitulah," tambah Azhar Jaya.
Merespons kasus ini, Kemenkes akhirnya mengambil langkah tegas. Mereka membekukan sementara PPDS Ilmu Kesehatan Mata di rumah sakit tersebut. Namun begitu, pembekuan ini sifatnya tidak permanen. Durasi lengkapnya bergantung pada respons dari pihak RSUP dan Fakultas Kedokteran Unsri.
Artikel Terkait
Kemenangan Publik: Ijazah Jokowi Tak Lagi Jadi Dokumen Rahasia
Menteri Kesehatan: Stigma, Tantangan Terbesar Pengentasan Kusta di Indonesia
Pemulihan Pascabanjir Sumut Butuh Rp69,47 Triliun, Empat Kali Lipat Kerugian
Banjir Rendam Rel, Delapan Kereta Jakarta-Semarang Terhambat