Di Gedung Sasana Bhakti Praja, Jakarta, suasana rapat koordinasi Kamis siang itu terasa padat. Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian, yang memimpin Satgas Percepatan Rehabilitasi Pascabencana Sumatera, memaparkan perkembangan terkini soal penanganan dampak bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Rakor ini jadi momen penting untuk mengevaluasi langkah-langkah yang sudah diambil.
Sejak ditugaskan, Tito tak cuma duduk di ruang rapat. Ia blusukan langsung ke lokasi bencana, bertemu para kepala daerah, dan mengonsolidasikan semua kementerian dan lembaga terkait. Tujuannya sederhana: mendengar langsung persoalan di lapangan, bukan sekadar klaim dari pusat.
“Kita cek satu per satu,” ujarnya tegas.
“Kami tidak ingin mengeklaim dari atas. Kami ingin dengar pernyataan dari bawah. Ada masalah enggak? Kalau ada, di mana? Kerja kita mulai dari situ.”
Dari serangkaian kunjungan dan pertemuan itu, muncul gambaran yang beragam. Di satu sisi, Sumatera Barat menunjukkan progres yang menggembirakan. Aktivitas pemerintahan daerah sudah normal lagi. Semua RSUD beroperasi, pasokan energi dan komunikasi stabil, bahkan geliat ekonomi mulai terasa. Namun begitu, bukan berarti semua sudah beres. Beberapa kabupaten masih butuh perhatian ekstra, terutama untuk urusan pendidikan, akses jalan, dan pemulihan sektor pariwisata.
Di sisi lain, kondisi di Sumut dan Aceh masih berat. Tantangannya lain lagi. Timbunan lumpur yang masih menggunung, jalan dan jembatan yang rusak parah, plus kerusakan di pasar rakyat serta fasilitas pendidikan desa, membuat pemulihan berjalan lebih pelan. Menurut Tito, situasi ini butuh kerja gotong royong yang solid. Tidak hanya dari pemerintah pusat dan daerah, tapi juga TNI-Polri dan tentu saja, masyarakat sendiri. Pembersihan lumpur dan perbaikan infrastruktur dasar harus jadi prioritas.
Artikel Terkait
Model CIBEST dari Indonesia Jadi Perbincangan Hangat di Brunei
Kemenkes Bekukan Program Spesialis Mata RSUP Hoesin Usai Terungkap Iuran Paksa Rp 15 Juta per Bulan
Purbaya Ancang-ancang Hantam Rokok Ilegal, Aturan Cukai Baru Segera Diteken
Bayi Dijual Rp 25 Juta, Bidan Jadi Otak Sindikat Perdagangan Bayi di Medan