"Satu karung botol plastik dihargai Rp80 ribu," ujarnya.
Itulah sumber penghasilannya. Uang sejumlah itu ia gunakan untuk menyambung hidup dan menafkahi keluarga. Hasilnya mungkin tak seberapa, tapi cukup untuk bertahan.
Di sisi lain, pekerjaan ini sudah ia jalani lama. Setiap hari, ritual yang sama terulang: menyisir sungai, memilah, lalu menjual ke pengepul rongsok. Hidupnya bergantung pada aliran Ciliwung dan sampah yang dibawanya. Sebuah siklus yang keras, namun nyata.
Artikel Terkait
Pendaki Muda Ditemukan Tewas di Jurang Terpencil Gunung Slamet
Kelahiran Pertama Macan Tutul Amur di Wina Setelah Delapan Tahun
Ego Harus Terkubur: Dahnil Ingatkan Petugas Haji Soal Pengorbanan Jemaah yang Jual Rumah Demi Baitullah
Model CIBEST dari Indonesia Jadi Perbincangan Hangat di Brunei