Rapat koordinasi di Kantor Kemendagri, Kamis lalu, berlangsung dengan nada yang cukup serius. Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, yang memimpin Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana Sumatera, tak menampik bahwa pekerjaan di Aceh masih sangat berat. Butuh kerja keras luar biasa, bukan cuma dari pemerintah pusat, tapi juga dari semua jajaran di daerah.
Menurut sejumlah saksi, kondisi di lapangan memang masih memprihatinkan. Tito sendiri memaparkan, pemerintahan di Aceh Tamiang contohnya, masih sangat terdampak. Bahkan, sejumlah kantor dinas belum bisa berfungsi optimal.
Persoalan tak berhenti di situ. Di sisi lain, masih banyak desa yang lumpuh total. Angkanya jauh lebih tinggi dibanding provinsi lain di Sumatera. Tito menyebut data yang cukup mencengangkan.
Memang, di sektor kesehatan seluruh fasilitas sudah berjalan. Tapi jangan dibayangkan sudah maksimal. Beberapa peralatan medis penting dilaporkan rusak.
Dampaknya benar-benar merata. Mulai dari sekolah, jalan, pasar, rumah ibadah, sampai jaringan listrik dan air bersih porak-poranda. Untuk masalah air, Tito menyebut beberapa wilayah PDAM-nya masih bermasalah, seperti Aceh Tenggara, Pidie, Singkil, Nagan Raya, Aceh Timur, Aceh Tengah, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang. Wilayah lainnya relatif lebih baik.
Artikel Terkait
Model CIBEST dari Indonesia Jadi Perbincangan Hangat di Brunei
Kemenkes Bekukan Program Spesialis Mata RSUP Hoesin Usai Terungkap Iuran Paksa Rp 15 Juta per Bulan
Purbaya Ancang-ancang Hantam Rokok Ilegal, Aturan Cukai Baru Segera Diteken
Bayi Dijual Rp 25 Juta, Bidan Jadi Otak Sindikat Perdagangan Bayi di Medan