BANDAR SERI BEGAWAN – Kamis lalu, tepatnya tanggal 15 Januari 2026, suasana di Sekolah Bisnis dan Ekonomi Universiti Brunei Darussalam (UBD) tampak berbeda. Ruang kuliah program MSc Islamic Finance and Data Analytics itu kedatangan seorang tamu istimewa dari Indonesia: Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University itu hadir untuk memberikan kuliah tamu. Topiknya cukup menarik, membahas sebuah model pengukuran yang menggabungkan dua aspek sekaligus: materi dan spiritual.
Irfan, sapaan akrabnya, memaparkan konsep Model CIBEST yang dikembangkan pusat studinya. Intinya, model ini menawarkan cara baru melihat kemiskinan dan kesejahteraan. Tidak cuma soal penghasilan atau harta benda, tapi juga mempertimbangkan kondisi spiritual seseorang.
“Di Indonesia, penerapannya sudah berjalan cukup lama,” jelas Irfan.
Menurutnya, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) sudah memakai Model CIBEST sejak akhir 2016. Tidak hanya itu, Badan Wakaf Indonesia (BWI) pun memasukkan model ini ke dalam instrumen Indeks Wakaf Nasional.
Bagi mayoritas mahasiswa UBD yang hadir, materi ini terbilang baru. Dan rupanya, mereka sangat antusias.
“Bahkan setelah sesi resmi berakhir, banyak yang masih bertanya dan mendalami. Mereka penasaran, terutama soal teknik pengumpulan data dan cara menghitung indeksnya,” tutur Irfan mengenai respons peserta.
Penggunaan model tersebut di tanah air ternyata makin meluas. Saat ini, Model CIBEST telah diadopsi menjadi bagian dari indikator dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), lewat penetapan Indeks Zakat Nasional (IZN).
“Dampak distribusi zakat di IZN itu diukur pakai Model CIBEST,” papar pakar ekonomi syariah tersebut.
Secara angka, sudah 13 provinsi dan 60 kabupaten/kota yang menggunakan pendekatan ini. Sebuah pencapaian yang tidak kecil.
Di akhir kuliahnya, Irfan menyampaikan harapan. “Semoga Model CIBEST terus memberi manfaat dan keberkahan. Saya juga ucapkan terima kasih untuk UBD atas undangannya. Kolaborasi seperti ini, mudah-mudahan bisa lebih erat lagi ke depannya.”
Artikel Terkait
Ghost in the Cell Dirilis di 86 Negara, Joko Anwar Angkat Horor Penjara dengan Kritik Sosial
Kisah di Balik Nama Unik Klinik Lacasino, Warisan dr. Farid Husain di Makassar
Dinas Peternakan Bone Perketat Pengawasan Hewan Kurban Jelang Idul Adha
Remaja 17 Tahun Ditahan Usai Bawa Kabur Pelajar Perempuan Selama Tiga Bulan