Namun begitu, di sisi lain, suara kritik tak bisa dipungkiri. Banyak kalangan, terutama dari dunia pendidikan, memandang investasi di perguruan tinggi sebagai sesuatu yang lebih strategis. Pendidikan, bagi mereka, bukan sekadar urusan gelar. Ia adalah investasi jangka panjang yang dampaknya bisa dirasakan lintas generasi, membentuk SDM unggul dan daya saing bangsa.
Inti kritiknya sederhana tapi mendasar: makanan habis dikonsumsi hari ini, sementara ilmu pengetahuan yang didapat di bangku kuliah akan terus dibawa seumur hidup dan ditularkan ke generasi berikut.
Jadi, ini bukan debat kusir tentang memilih antara "makan" atau "sekolah". Lebih dari itu, ini adalah pertanyaan tentang keseimbangan. Seberapa besar komitmen negara untuk membangun masa depan, ketimbang sekadar memadamkan api masalah yang muncul hari ini?
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah belum memberikan klarifikasi resmi yang menjawab langsung perbandingan angka-angka viral tersebut. Tapi diamnya pemerintah tak lantas meredam perbincangan.
Justru sebaliknya. Diskusi publik yang semakin menguat ini menandai satu hal yang positif: masyarakat sekarang lebih kritis. Mereka mulai jeli membaca angka-angka dalam APBN, dan tak sungkan bertanya: untuk siapa sebenarnya uang rakyat ini dianggarkan?
Artikel Terkait
Sholat Rajin, Tapi Korupsi Jalan: Ustadz Hilmi Soroti Kualitas Ibadah Pejabat
TNI dan Terorisme: Mengapa Satuan Khusus Siap Jadi Tameng Terakhir?
Pratikno: Data Akurat Jadi Kunci Penanganan Pascabencana Sumatera
Pemerintah Siapkan Beasiswa Penuh untuk Perluasan Fakultas Kedokteran