Acara itu cuma tiga hari. Tapi Gus Yaqut ternyata berada di Perancis sampai 24 hari.
"Dia seperti layang-layang putus," celetuk Cak Islah, menggambarkan situasi itu. Menurutnya, ketidakhadiran Gus Yaqut di DPR itu merugikan dan menimbulkan tanya. Bagi banyak orang, menghindar sering diartikan sebagai rasa takut. Dan rasa takut itu kerap dikaitkan dengan keterlibatan dalam suatu masalah.
Kemarahan Cak Islah, rupanya, juga bersumber pada ironi yang ia lihat. Gus Yaqut, orang yang dikenal menentang kelompok garis keras dan menggaungkan Pancasila, kini justru jadi pesakitan. Padahal, dulu Gus Yaqut getol menentang korupsi yang melibatkan orang-orang berjubah agama. "Saya yakin Gus Yaqut tidak korupsi," tegasnya.
Keyakinannya itu punya dasar. Saat penggeledahan, KPK tak menyita satu barang pun dari rumah Gus Yaqut. Hanya paspor untuk keperluan pencekalan. Cak Islah menilai ini sebagai bagian dari pencitraan KPK yang biasa-biasa saja. Dia juga menyoroti bahwa pimpinan KPK sekarang adalah orang-orang yang dilantik di era Jokowi. Baginya, Gus Yaqut mungkin cuma sasaran antara. Sasaran sebenarnya? Gus Yahya.
Namun begitu, gaya pembelaan seperti ini sebenarnya sudah lazim. Hampir setiap kali ada pejabat yang ditangkap KPK, muncul narasi serupa: ada tebang pilih, ada orang besar di belakangnya, ada pengkriminalan. Polanya nyaris sama.
Pada akhirnya, semua kembali pada proses hukum. Pembuktian KPK yang akan menjawab. Bongkar-bongkaran kasus Gus Yaqut ini ditunggu banyak pihak. Benar-benar ada barang bukti, atau hanya ilusi belaka? Waktu yang akan menentukan.
Artikel Terkait
SBY Tegaskan AHY sebagai Satu-satunya Matahari yang Tentukan Arah Partai Demokrat
Gadis 13 Tahun Hilang Diduga Dibawa Kabur Pria yang Dikenal di TikTok
Dinginnya Harbin Tak Halangi Seniman Bali Ukir Kemenangan di Dunia Es
Rektor UTM Soroti Anomali Data Ekonomi di Hadapan Presiden