600 Hunian Darurat Tuntas di Aceh Tamiang, BRI dan BUMN Pacu Pembangunan

- Jumat, 02 Januari 2026 | 11:30 WIB
600 Hunian Darurat Tuntas di Aceh Tamiang, BRI dan BUMN Pacu Pembangunan

Bergerak Cepat di Aceh Tamiang, BRI dan BUMN Rampungkan 600 Hunian Darurat

Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh – Pasca bencana, pemulihan hidup masyarakat adalah hal yang paling krusial. Di sinilah peran nyata dari Danantara Indonesia, dengan dukungan penuh BUMN lewat program BUMN Peduli, benar-benar terlihat. Salah satu yang turun tangan adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI, yang bersama Himbara lainnya, memberikan sokongan dana dan logistik untuk sebuah proyek vital: membangun Rumah Hunian Danantara (Huntara).

Proyek ini bukan main-main. Dimulai pada 24 Desember 2025, pembangunannya menunjukkan laju yang sangat cepat. Bahkan, pada 8 Januari 2026 mendatang, sudah ada 600 unit yang siap diserahkan ke Pemerintah Daerah untuk segera dihuni warga. Target ke depannya lebih besar lagi: 15.000 unit dalam tiga bulan. Tujuannya jelas, memastikan setiap keluarga yang kehilangan tempat tinggal punya atap di atas kepala, meski untuk sementara.

Namun begitu, hunian sementara ini tak dibuat asal-asalan. Setiap unit dibangun sesuai standar kelayakan. Strukturnya aman, dilengkapi akses air bersih, sanitasi, dan listrik. Bahkan kawasan huniannya dirancang seperti lingkungan yang utuh, dilengkapi klinik, taman bermain, serta akses internet dan listrik gratis. Ini semua untuk mendukung aktivitas sosial dan sedikit mengembalikan rasa normalitas.

Pada kunjungannya ke lokasi awal tahun ini, Presiden RI Prabowo Subianto menyoroti kecepatan kerja ini.

“Danantara Indonesia membuktikan bahwa kita bisa membangun 600 hunian, semua pihak telah bekerja dengan gemilang, dengan cepat,” ucapnya.

Pernyataan Presiden sepertinya menggambarkan semangat kolektif di lapangan. Rosan Roeslani, CEO Danantara Indonesia, mengakui bahwa capaian ini buah dari sinergi banyak pihak, terutama peran aktif BUMN dalam eksekusi.

“BUMN bergerak cepat, bekerja di lapangan dalam kondisi yang tidak mudah, untuk memastikan masyarakat segera mendapatkan hunian yang layak,” kata Rosan.

Ia juga menekankan bahwa Huntara ini bukan akhir dari segalanya. “Huntara ini menjadi jembatan penting menuju fase hunian permanen dan pemulihan ekonomi masyarakat. Karena itu, kualitas dan keberlanjutan tetap menjadi perhatian utama,” tuturnya.

Kolaborasinya sendiri memang masif. PT Perkebunan Nusantara III menyediakan lahannya. Sementara, tujuh BUMN Karya dipimpin PT Hutama Karya sebagai koordinator lapangan terlibat langsung dalam konstruksi dengan sistem modular yang cepat. Dukungan infrastruktur dasar datang dari PLN untuk listrik dan Telkom untuk konektivitas. Di sisi pendanaan dan logistik, Himbara (Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, BSI) mengerahkan sumber dayanya.

Menurut Dony Oskaria, COO Danantara Indonesia, kunci keberhasilannya ada pada disiplin eksekusi dan intensitas kerja yang tinggi untuk mengejar waktu yang sangat terbatas.

“Ini adalah contoh konkret bagaimana BUMN menjalankan peran strategisnya sebagai perpanjangan tangan negara, bukan hanya berorientasi pada bisnis, tetapi juga pada kepentingan sosial dan kemanusiaan,” ujarnya.

Dari sisi BRI, komitmen ini adalah bagian dari rangkaian panjang upaya mereka. Corporate Secretary BRI, Dhanny, menyatakan dukungan untuk Huntara adalah wujud nyata kontribusi bank dalam pemulihan pascabencana.

“Huntara memiliki fungsi penting sebagai tempat tinggal transisi yang aman, layak, dan manusiawi. Melalui kontribusinya, BRI berharap dapat membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasar tempat tinggal sambil menunggu hunian permanen,” tutur Dhanny.

Sebelum proyek Huntara ini, BRI Group sebenarnya sudah cukup aktif merespons bencana di Sumatra. Mereka telah menjalankan 40 aksi tanggap darurat, mendirikan 10 posko, dan menyalurkan bantuan mulai dari puluhan ribu paket sembako, obat-obatan, peralatan kebersihan, hingga perahu karet. Secara total, program mereka diklaim telah menjangkau lebih dari 100 ribu penerima manfaat.

Posko-posko bencana itu juga dilengkapi layanan kesehatan, dapur umum, dan yang cukup menyentuh, program Trauma Healing Anak untuk membantu pemulihan psikologis korban termuda. Kehadirannya diharapkan bisa menjadi titik terang, pusat pemulihan terpadu di masa-masa paling sulit.

Jadi, dari Aceh Tamiang, ceritanya lebih dari sekadar angka 600 atau 15.000 unit hunian. Ini tentang bagaimana kerja sama yang solid dan eksekusi cepat bisa memberikan harapan, sekaligus pondasi, untuk membangun kembali kehidupan yang porak-poranda.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar