17 Februari dalam Catatan Sejarah: Dari Tsunami Maluku 1674 hingga Kelahiran Buya Hamka dan Michael Jordan

- Selasa, 17 Februari 2026 | 04:30 WIB
17 Februari dalam Catatan Sejarah: Dari Tsunami Maluku 1674 hingga Kelahiran Buya Hamka dan Michael Jordan

MURIANETWORK.COM - Tanggal 17 Februari menyimpan catatan peristiwa penting yang beragam, dari bencana alam dahsyat hingga kelahiran tokoh-tokoh yang mengubah dunia. Mulai dari tsunami mematikan di Maluku pada 1674, kelahiran ulama besar Buya Hamka dan legenda basket Michael Jordan, hingga gempa besar di Biak pada 1996, hari ini menjadi titik temu berbagai fragmen sejarah yang membentuk narasi global.

Tsunami Raksasa yang Meluluhlantakkan Maluku

Pada tahun 1674, wilayah Maluku diguncang bencana maha dahsyat. Sebuah tsunami raksasa, dengan ketinggian yang dikabarkan mencapai 80 meter, menghantam kawasan Hila dan Lima di Pulau Ambon serta Pulau Seram. Peristiwa tragis itu merenggut nyawa sebanyak 2.322 orang, meninggalkan luka mendalam dalam sejarah kepulauan tersebut.

Cikal Bakal Palang Merah Internasional

Berpindah ke benua Eropa, pada 17 Februari 1863, sebuah lembaga kemanusiaan global yang kita kenal hari ini mulai dirintis. Para warga kota Jenewa kala itu membentuk International Committee for Relief to the Wounded, yang kemudian berkembang menjadi International Committee of the Red Cross (ICRC) atau Komite Palang Merah Internasional. Inisiatif ini menjadi fondasi bagi kerja-kerja kemanusiaan netral yang menjangkau seluruh penjuru dunia.

Kelahiran Sang Multitalenta: Buya Hamka

Di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Sumatra Barat, pada 17 Februari 1908, lahir seorang anak yang kelak menjadi pilar intelektual dan spiritual Indonesia. Ia adalah Abdul Malik Karim Amrullah, yang lebih dikenal dengan panggilan hormat Buya Hamka atau Datuk Indomo.

Buya Hamka wafat di Jakarta pada 24 Juli 1981, meninggalkan warisan yang tak ternilai. Kiprahnya membentang luas sebagai ulama, sastrawan, wartawan, penulis produktif, dan pengajar yang disegani. Ia juga aktif dalam dunia politik melalui Partai Masyumi dan memainkan peran sentral dalam organisasi keagamaan, termasuk menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama dan tetap aktif di Muhammadiyah sepanjang hidupnya.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar