Pembukaan perdagangan Jumat (13/2/2025) diwarnai awan mendung. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terperosok, melemah 0,57 persen atau sekitar 82 poin. Ini sekaligus menghentikan tren penguatan yang berlangsung selama tiga hari sebelumnya.
Tekanan terlihat merata. Indeks LQ45 dan JII ikut ambil ancang-ancang, masing-masing merosot 0,86 persen dan 0,71 persen. Saham-saham besar yang biasanya jadi penopang seperti BBCA, BBRI, BMRI, hingga ASII dan TLKM semuanya tercatat di zona merah di awal sesi.
Menurut Rully Arya Wisnubroto, Head of Research and Chief Economist Mirae Asset, pelemahan ini sebenarnya sudah bisa ditebak.
"Menyusul penguatan signifikan selama tiga hari berturut-turut, IHSG kemarin terkoreksi 0,3% ke level 8.265,4," ujarnya.
Koreksi itu berjalan beriringan dengan pelemahan Rupiah yang menyentuh kisaran Rp16.818 per dolar AS. Di sisi lain, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun relatif stabil di angka 6,44%.
Yang cukup mengkhawatirkan adalah aksi investor asing. Mereka kembali mencatatkan net sell yang sangat besar, mencapai sekitar Rp2 triliun di pasar reguler. Bank Central Asia (BBCA) lagi-lagi jadi sasaran empuk, dengan jual bersih asing di saham tersebut menyentuh Rp890 miliar.
Sentimen pasar memang sedang tidak bagus. Di satu sisi, ada kekhawatiran soal potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI. Di sisi lain, pemangkasan outlook peringkat utang Indonesia juga jadi beban pikiran para pelaku pasar.
Artikel Terkait
Hakim Federal Hentikan Sementara Proyek Ballroom Mewah Trump di Gedung Putih
Bandara Ngurah Rai Layani 1,14 Juta Penumpang Saat Posko Lebaran 2026
Indonesia Desak DK PBB Gelar Sidang Darurat Usai Tiga Pasukan Perdamaiannya Gugur di Lebanon
Swedia Lolos ke Piala Dunia 2026 Usai Kalahkan Polandia 3-2 dalam Drama Play-off